Harga Singkong Anjlok, Petani Tubaba : Bisa Balik Modal Sudah Syukur

  • Bagikan
petani singkong tengah mengangkut singkong di kebunnya. Foto dok Dedi S/radartuba/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Harapan petani singkong di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) untuk mendapatkan hasil penjualan yang lebih tinggi dari hasil panen perkebunan mereka kandas. Bahkan sejumlah petani memilih bertahan untuk tidak memanen singkongnya, meski sudah melebihi usia panen. Anjloknya harga bahan baku tepung ini menjadi penyebab utamanya.

Kondisi ini sangat dikeluhkan, dan membuat para petani singkong menjadi cemas. Sebab, mereka terancam rugi dengan harga singkong yang saat ini hanya di kisaran Rp800/kg tersebut dengan potongan rafaksi 25 persen. Sebagian besar petani singkong menganggap, harga tersebut sangat minim dan dan tidak sesuai.

“Kita sebagai petani singkong sangat terpuruk dengan harga singkong sekarang ini mas. Biasanya harga bisa di atas Rp1.000/kg, tapi sekarang hanya sekitar Rp800/kg. Itupun harga kotor, sebab masih harus dipotong upah kuli, dan biaya transportasinya dan rafaksi 25 persen minimal,”ungkap Joni (36), warga Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Rabu (17/2) sore.

Baca Juga:   Bupati Tubaba Tambah Kuota Penerima Bantuan Mantra

Menurutnya, jika harga singkong tidak ada kenaikan bahkan semakin terjun bebas, maka para petani singkong akan semakin terpukul. Terlebih bagi mereka yang hanya menggantungkan pendapatannya dari hasil panen singkong.”Jangankan dapat untung, bisa kembali modal saja sudah bersyukur. Apalagi ditambah kondisi saat ini, kita sedang dilanda Covid-19, sangat sulit untuk mendapatkan rupiah karena kondisi ekonomi yang memang lagi terpuruk,”keluhnya.

Baca Juga:   Bupati Tubaba Tambah Kuota Penerima Bantuan Mantra

Dia pun berharap Pemkab Tubaba bisa segera memberikan perhatian khusus terhadap kondisi tersebut, sebab peran pemerintah  dalam mengendalikan harga singkong sangat dibutuhkan, sehingga petani tidak merugi.”Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan petani singkong, dan secepatnya bisa memberikan solusi agar harga singkong naik sesuai harapan petani,”tandasnya.

Jaya (35), yang juga petani singkong, lebih memilih untuk menunda panen, sebab menurutnya akan rugi jika dipaksakan.”Punya saya ini sudah berusia 12 bulan lebih. Ya saya biarkan saja apa yang bakal terjadi pada tanaman singkong saya ini. Mau gimana lagi, harganya tidak sesuai dan jauh dari harapan kami sebagai petani singkong. Yang jelas, hitungan saya sangat rugi kalau dipanen sekarang,”singkatnya. (fei/rnn/wdi)

Baca Juga:   Hamdalah, Buku Pantun Karya Para Ibu PKK Waykenanga Kantungi ISBN




  • Bagikan



Bejat! Paman Cabuli Keponakan Hingga Hamil Delapan Bulan ASDP Tak Melayani Pemudik, Kecuali…