AJI-Bestari Agendakan Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim

  • Bagikan

Radarlampung.co.id – Isu lingkungan belum menjadi perhatian khusus di kalangan jurnalis dan media, terutama di Lampung. Umumnya media hanya mengangkat pada aspek akibat saat sudah ada korban hingga menjadi kejadian luar biasa. Terkadang juga isu ini hanya muncul secara tiba-tiba saat ada peristiwa.

Untuk itulah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung bersama Program Bestari bakal menggelar Talkshow di Hotel Whiz Prime Jalan Ahmad Yani No.21 Bandarlampung, Minggu (15/12).


Ketua AJI Bandarlampung Hendry Sihaloho menilai, sangat jarang ditemukan media merancang liputan isu lingkungan dengan baik untuk menyajikan berita yang lebih komprehensif. Misalnya mengangkat akar kerusakan taman nasional dan tawaran solusi sehingga menjadi wacana untuk membangun diskusi bersama antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan.  

Untuk itulah diperlukan pemahaman yang baik dan membangun perspektif yang baik dalam mengenali isu lingkungan, terutama di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Hendry menuturkan AJI Bandarlampung bersama dengan Program Bestari (Pelestarian Habitat Prioritas di TNBBS) mengadakan pelatihan dan telah memfasilitasi jurnalis dalam tiga kali kesempatan untuk melakukan peliputan di TNBBS.

“Untuk mengapresiasi dan mendorong jurnalis menghasilkan liputan berkualitas, program akan memberikan hadiah kepada jurnalis dengan liputan terbaik mengenai TNBBS selama tahun 2019,” ujarnya, Jumat (13/12).

David Purmiasa, Koordinator Program Bestari menuturkan kopi merupakan komoditas utama di Lampung. Menurut Kementerian Pertanian, Lampung adalah penghasil kopi robusta terbesar ke dua setelah Sumatera Selatan dengan produksi mencapai 106,716 ton untuk jenis robusta melalui sistem perkebunan rakyat.

Tidak heran hal ini menarik masyarakat untuk membuka lahan dan menanam kopi. Namun dalam praktiknya, sangat disayangkan bahwa banyak para petani kopi yang menggunakan tanah konservasi sebagai lahan tanam kopi.

Selain itu, peningkatan suhu juga menyebabkan hama musuh kopi yang biasanya hanya mampu hidup pada ketinggian 800 Meter di atas permukaan laut (Mdpl) kini bisa bertahan pada ketinggian 1.200 Mdpl. Untuk mengurangi dampak pemanasan global, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bestari yang bertujuan untuk melestarikan Habitat Prioritas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Conserving priority habitats in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra).

Program Bestari merupakan kerjasama antara Wildlife Conservation Society (WCS), WWF Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan Balai Besar TNBBS.

Program ini juga didukung oleh Kementerian Federal Negara Jerman untuk Lingkungan, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir (BMU) dalam kerangka International Climate Initiative melalui KfW-Bank Pembangunan Pemerintah Jerman. 

Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim, terbuka bagi jurnalis, freelancer, jurnalis kampus, fotografer maupun blogger. Untuk mengikuti Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim, calon peserta bisa mengisi form di bit.ly/talkshow11. (gie/rls/kyd)


Baca Juga:   Suhendar Zuber Jabat Dirut PDAM Way Rilau, Eva: Jangan Ada Lagi Keluhan Dari Masyarakat!


  • Bagikan