“Almarhum Pipit Seorang Pekerja Keras, Sayang Keluarga…”

  • Bagikan
Pengambilan sampel antemortem oleh pihak kepolisian. Foto Yusuf AS/radarlampung.co.id

RADAR LAMPUNG.CO.ID-Pipit Piyono (25), warga Tiyuh Toto Makmur Batuputih Tulangbawang Barat adalah salah satu penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu Sabtu (9/1). Pesan terakhir Pipit sebelum berangkat masih teringat jelas oleh Neli Handayani (22) sang istri. “Aku sudah mau naik pesawat. Doa’in ya Dik, Kamu jaga kesehatan dan Arkan ya,” begitu ucap Pipit ke Neli lewat video call sesaat sebelum berangkat. Ternyata itulah terakhir kali Neli mendengar dan melihat Pipit.

Dengan kondisi lemah meski telah didampingi orang tua dan keluarga, Neli mencoba untuk tetap kuat. Apalagi, buah cintanya dengan Pipit Piyono, Arkan Muhammad Tohari (7 bulan) nampak sangat sehat dan menggemaskan.


Anak pertama mereka belum sempat lahir ke dunia telah kembali ke hadapan Yang Maha Kuasa akibat lahir prematur. Diceritakan Neli, suaminya memang tipe pekerja keras. Niat untuk bekerja di Pontianak baru diungkapkannya kepada Pipit sekitar satu pekan lalu.

Pipit menurut Neli bercerita bahwa ia diajak oleh Sugiono, rekannya, untuk bekerja sebagai buruh bangunan di Pontianak. Sebagai istri dia pun mendukung, apalagi keinginan Pipit sangat kuat ditambah kondisi penghasilannya selama ini belum memuaskan setelah pandemi Covid-19 melanda.

Baca Juga:   Pukuli Anak Kecil, Remaja Ditangkap Polisi

Terlebih kelak buah hati kebanggaan akan menuntut ilmu mulai dari Paud ke jenjang yang lebih tinggi. “Sebagai suami, Mas Pipit adalah orang yang ulet dan baik sama saya dan keluarga. Dia orang yang pekerja keras, gak suka kalau gak kerja,”ungkap Neli kepada radarlampung.co.id.

Tidak ada firasat atau pun keanehan yang ditunjukkan suaminya. Menjelang keberangkatan Neli memang telah mempersiapkan bajunya. Total baju yang dibawa suaminya sekitar empat stel ditambah satu stel yang dikenakannya. “Satu setel yang dipakainya, kalau yang di dalam tas ransel itu sekitar empat stel,”jelas wanita berjilbab yang mengenakan baju tidur dengan warna merah marun ini.

Malam keberangkatan, ia dan suaminya bersama-sama memilih baju yang akan dibawa untuk beberapa bulan ke depan. “Semua bajunya sudah bersih, malam itu saya dan suami juga yang milih-milihnya. Udah gitu dimasukkan ke dalam tas ransel, bukan koper,”jelas Neli didampingi Sabar (40) yang merupakan pamannya.

Sebelum berangkat, keluarga juga bersepakat bahwa Neli dan Arkan tinggal bersama di rumah orang tuanya yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah mereka. Dari rumah di jalan satu tiyuh setempat itulah Pipit sekitar Pukul 08.00 WIB berangkat mencari nafkah untuk keberlangsungan keluarganya.

Baca Juga:   Polres Tuba Limpahkan Kasus Dugaan Korupsi DD ke Kejaksaan

Pagi itu Pipit juga berpesan agar ia menjaga kesehatannya dan buah hati mereka. Sebelum berangkat, Pipit sempat menggendong anaknya yang nampak tumbuh sehat itu. Sesaat sebelum menaiki mobil yang akan mengantarkannya ke Bandar Lampung, Pipit juga memeluk dan mencium Arkan.”Ya itu, dia gendong, dan dia peluk, diciumnya anak saya ini, itulah terakhir kali dia peluk dan digendong ayahnya,”papar Neli.

Kabar duka itu diketahuinya secara langsung melalui berita di ponselnya. Itu ia dapatkan dari sebuah web berita yang menyebutkan bahwa pesawat Sriwijaya Air diduga jatuh di Kepulauan Seribu Pukul 14.40 WIB.

Saat itulah ia langsung merasa lemas, sebab sebelum naik ke pesawat, suaminya sempat mengirimkan nomor penerbangan dan tiket pesawatnya. Data itulah yang kemudian dia cocokkan dengan nomor tiket dan nomor penerbangan belahan jiwanya. “Ternyata itu benar, dari situ saya langsung lemas. Gak ada tenaga,”ungkap Neli dengan suara yang agak berat.

Neli masih berharap kabar baik dari tim Basarnas untuk menemukan suaminya dalam kondisi hidup. “Sekarang saya hanya bisa berdoa, Insyaa Allah Mas Pipit bisa selamat,”tutupnya. (fei/wdi)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan