Antisipasi Omicron, GP Farmasi Klaim Ketersediaan Obat Aman


FOTO DOK. GP FARMASI LAMPUNG

RADARLAMPUNG.CO.ID- Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi mengklaim ketersediaan obat aman. Menyusul prediksi meningkatnya kasus Covid-19 varian Omicron pada Februari-Maret 2022.

”Semua kebutuhan obat bisa dipenuhi sepanjang tidak ada lonjakan (kasus Covid-19 varian Omicron) yang berkali-kali lipat,” kata Ketua Umum GP Farmasi Indonesia Tirto F Kusnadi dalam musyawarah daerah (musda) GP Farmasi Lampung di Novotel, Bandarlampung, melalui rilis, Kamis (20/1).





Tirto menjelaskan, semua industri apapun tidak akan mampu memenuhi permintaan pasar sampai empat atau lima kali lipat secara mendadak. Tapi Tirto menjamin bahwa ketersediaan obat dapat terpenuhi dalam waktu singkat. Karena semua industri farmasi telah bersepakat untuk menyediakan obat.

Industri farmasi telah terbukti tahan dalam menghadapi Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir. Bahkan dapat menyediakan sebanyak 90 persen obat dalam negeri dan terdistribusi ke berbagai negara. Jadi, dia meminta agar masyarakat tidak takut kekurangan obat. ”Kita tetap bisa sediakan,” ujarnya.

Dia menyebut, industri farmasi telah melewati masa terberat pada Mei-Juni 2021. Dimana, Presiden RI Joko Widodo sampai turun ke apotik untuk menanyakan ketersediaan obat Covid-19. Sejak itu, berkat kerja-sama semua pihak, kebutuhan obat dapat terpenuhi dalam waktu sebulan,

Ketua GP Farmasi Lampung Endeng Kasuma Widjaja menambahkan, pihaknya akan memberikan suplai obat-obatan agar tidak terjadi kelangkaan. Distribusi obat juga aman dan sudah mencapai pelosok provinsi ini. Distribusi juga dalam pengawasan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandarlampung.

”Kita bermitra dengan baik dengan semua pihak. Yang muaranya, masyarakat Lampung akan mendapatkan produk farmasi yang berkhasiat, aman, dan bermutu,” terang Endeng yang terpilih kembali sebagai ketua GP Farmasi Lampung periode 2022-2027, dalam musda, Kamis (20/1).

Kepala BBPOM Bandarlampung Sukriadi Darma yang hadir dalam pembukaan musda, mengatakan bahwa pada awal penetapan status Pandemi Covid-19, pihaknya sudah bertemu secara langsung dengan GP Farmasi, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), dan semua yang bergerak di bidang obat.

Pertemuan untuk memastikan bahwa tidak ada kelangkaan obat yang dibutuhkan dalam pengobatan atau penatalaksanaan covid-19. Dan semua pihak sudah bersepakat untuk saling berkoordinasi dan berkolaborasi agar tidak ada kelangkaan tersebut.

”Dan sampai sekarang, berdasarkan pengawasan BBPOM, termasuk pengawasan obat dan vaksin di Lampung, sampai sekarang masih terkendali,” kata Sukriadi.
Soal prediksi melonjaknya kasus Covid-19 varian Omicron, BBPOM melakukan pengawasan mutu dan keamanan vaksin serta obat. Baik yang dilakukan dalam penatalaksanaan covid-19 atau tidak.

GP Farmasi adalah asosiasi yang dalamnya tergabung semua pelaku usaha yang bergerak di bidang farmasi. Mulai dari pedagang besar farmasi, apotek, dan toko obat. GP Farmasi adalah mitra kerja BBPOM.

Tentu saja sistem pengawasan obat dan makanan adalah tanggung jawab banyak pihak. Jadi dalam sistem pengawasan obat makanan itu, ada tiga pihak yang bertanggungjawab. Yaitu BBPOM, Dinas Kesehatan, serta pelaku usaha.

Masyarakat diharapkan cerdas dengan selalu bisa memilih obat dan makanan dengan baik. Dalam musda GP Farmasi, BBPOM berharap agar GP Farmasu bisa melakukan usahanya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga, regulasi yang merupakan bidang pengawasan BBPOM bisa berjalan baik. Agar masyarakat masyarakat Lampung dapat memperoleh obat dan makanan. (dna/rls/wdi)