Atlet Gagal Berangkat ke Peparnas, Dispora Janji Mediasi Kisruh Cabor Tenis Meja dan NPC Lampung

  • Bagikan
Dua atlet tenis meja disabilitas yang gagal berangkat ke Peparnas mengunjungi Dispora Lampung. Foto Rizky Panchanov/Radarlampung.co.id
Dua atlet tenis meja disabilitas yang gagal berangkat ke Peparnas mengunjungi Dispora Lampung. Foto Rizky Panchanov/Radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Dua dari empat atlet penyandang disabilitas cabang olahraga (cabor) tenis meja yang gagal berangkat ke Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI di Papua mendatangi kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lampung, Senin (1/11).

Zulfikar dan Triyanto, keduanya meminta penjelasan dari Dispora Lampung terkait tidak diberangkatkannya cabor tenis meja ke even olahraga terbesar bagi penyandang disabilitas itu.


Keduanya bertemu dengan Rahmat Haryadi Plt. Sekretaris dan Indah Kasi Olahraga Rekreasi dan Tradisional Layanan Khusus Dispora Lampung.

“Kami ingin klarifikasi ke Dispora kenapa kami yang sering mendapatkan medali di Peparnas ataupun kejuaraan lain justru tidak diberangkatkan ke Peparnas,” ujar Triyanto ditemui di Dispora, Senin (1/11).

Memang anggaran untuk Peparnas tahun ini, menurutnya minim dan hanya dianggarkan Rp100 juta.

“Tapi kenapa justru atlet yang belum pernah mendapatkan medali yang berangkat. Dari keterangan ketua NPC (National Paralympic Commitee) Lampung (Pramono), Dispora Lampung yang berwenang memberangkatkan Makanya kita minta klarifikasi,” ungkapnya.

Pihaknya meminta tenis meja mendapat kuota dua atlet minimal untuk nomor beregu dan ganda. Sebab, kata Triyanto, dua nomor ini yang selalu menjadi andalan Lampung.

Sedangkan Zulfikar menambahkan, dari keterangan Dispora, rupanya diketahui bila kewenangan untuk memberangkatkan atlet ada di NPC Lampung dan bukan Dispora.

“Intinya kegagalan berangkat ini karena ketidakharmonisan (cabor tenis meja dengan NPC). Ada miskomunikasi,” ungkapnya.

Baca Juga:   Dua Nama Bersaing Jadi Calon Ketua Pordasi Lampung

Pihak Dispora kata Zulfikar akan memfasilitasi dan memanggil pengurus NPC Lampung. “Kita siap (buka-bukaan) harus siap,” tegasnya.

Plt. Sekretaris Dispora Lampung Rahmat Haryadi mengatakan, pihaknya akan memediasi kisruh antara cabor tenis meja dan NPC Lampung.

“Mereka ingin silaturahim supaya tidak satu sisi saja penjelasan dari NPC. Kita tidak bisa memvonis mereka benar atau salah,” ucap Haryadi.

“Tapi alangkah baiknya kita bijak dudukan mereka dalam satu meja. Kita koreksi selama ini apa yang telah dilakukan NPC Lampung. Sehingga bagaimana mereka yang punya medali punya prestasi bisa juga menyumbangkan bakat mereka untuk Lampung,” lanjutnya.

Pihaknya bersyukur para atlet yang tidak berangkat ke Peparnas ini datang ke Dispora Lampung dan berbicara langsung.

“Ini terlalu lama dibiarkan. Mereka tidak bicara dengan dinas di kabupaten. Saya bersyukur mereka datang mereka punya hati yang sama bagaimana ke depan lebih baik,” ujar Rahmat yang juga Kabid Pembudayaan Olahraga Dispora Lampung ini.

Rahmat menegaskan, Dispora Lampung tidak pernah ikut campur dan mengintervensi siapa saja atlet yang akan berangkat ke Peparnas.

“Dispora tidak pernah ikut campur. Yang mengajukan proposal mereka (NPC). Dispora tidak pernah mengintervensi. Nanti setelah mereka (NPC) pulang dari Papua kita undang untuk membicarakan hal ini,” tandasnya.

Diketahui, Atlet cabang olahraga (cabor) olahraga tenis meja kecewa karena tidak berangkat ke Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI di Papua.

Baca Juga:   Dua Nama Bersaing Jadi Calon Ketua Pordasi Lampung

Hal itu diungkapkan oleh Triyanto. Ia kecewa lantaran empat atlet tenis meja Sukiyatno, Zulfikar dan Hendrik dan dirinya gagal berangkat. Padahal ia sudah mempersiapkan latihan selama dua tahun untuk bisa mengikuti kejuaraan nasional khusus penyandang disabilitas itu.

“Alasan ketua NPC (National Paralympic Commitee) Lampung tidak ada biaya karena anggarannya terbatas hanya Rp100 juta. Tenis meja hanya satu nomor yang diberi kesempatan untuk berangkat. Padahal andalan kita ada di beregu dan ganda yang di PON 2016 menyumbangkan medali. NPC justru memberangkatkan atlet dari cabor lain yang belum pernah mendapat medali,” ujar Triyanto.

Ia lalu meminta kuota kepada NPC Lampung agar tenis meja diberi dua nomor untuk bisa berangkat. Namun NPC Lampung bergeming. Ketua NPC Lampung, Pramono menjelaskan empat atlet tenis meja tersebut tidak mau ikut seleksi.

Padahal, syarat untuk ikut Peparnas adalah seleksi atlet.

“Karena 2016 dia mendapat medali. Di situ namanya olahraga pasti kan ada seleksi. Mereka diseleksi nggak mau. Malah nunjuk atlet yang nggak pernah kenal sama saya, nggak pernah ikut Peparnas dan nggak pernah ikut kejurnas,” katanya ditemui saat pelepasan kontingen Peparnas Lampung.

Pramono bersikukuh keempatnya untuk seleksi di nomor tunggal tenis meja. (nca/sur)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan