Ayo! Kita Tolong Sesama dengan Donor Plasma Konvalesen

  • Bagikan
Masrian (40), yang juga adik General Manager Radar Lampung H. Purna Wirawan, menjadi pendonor plasma konvalesen pertama dengan alat Apheresis di UTP PMI Lampung, Rabu (4/8). Foto Prima Imansyah Permana/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Palang Merah Indonesia (PMI) Lampung mendapat bantuan Apheresis alat donor Plasma Konvalesen dari Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Alat itu baru ada satu-satunya di Lampung.

Apheresis memiliki serangkaian kelebihan, dan hari ini (4/8) digunakan untuk transfusi plasma konvalesen pertamanya oleh pendonor Masrian (40), yang juga adik General Manager Radar Lampung H. Purna Wirawan.


Kepala Unit Tranfusi Darah (UTP) PMI Lampung dr. Aditya M Biomed mengatakan, Apheresis merupakan alat baru di PMI Lampung, ini merupakan bantuan dari Gubernur Lampung.

Apheresis digunakan untuk mengambil plasma konvalesen dari pendonor dan dibagi menjadi beberapa kantong. “Memang sangat membantu, sehingga kita bisa mengambil maksimal dari pendonor ini, kemudian dia (pendonor, red) bisa donor lagi dalam waktu tidak terlalu lama,” ucapnya kepada Radarlampung.co.id, Rabu (4/8).

Aditya pun membandingkan alat baru ini dengan cara konvensional yang dilakukan sebelumnya tidaklah maksimal. Sebab, cara konvensional maksimal hanya dapat mengambil 200 cc, dan dapat donor kembali dalam waktu dua bulan lagi.

“Ini sangat membantu sekali, karena pendonor dapat mendonor lagi dua minggu setelah mendonor dan dapat mengambil maksimal 800 cc atau empat kantong. Mudah-mudahan ini juga menjadi solusi untuk mengatasi permintaan plasma konvalesen,” terangnya.

Baca Juga:   Bakso Son Haji Sony Adukan Nasib Karyawannya ke KSP RI

Permintaan plasma sendiri, menurutnya cukup tinggi. Dirinya mengaku sempat mendapat permintaan untuk 50 pasien dalam sehari. Sementara pihaknya sama sekali tidak memiliki stok.

“Bayangkan jika satu pasien butuh dua kantong plasma konvalesen, tentu perlu 100 kantong dalam satu hari. Dengan alat ini, bisa empat kantong untuk satu pendonor, dan dalam dua minggu lagi bisa donor,” terangnya.

Untuk tahapannya sendiri, kata Ketua IDI Bandarlampung itu tidaklah rumit. Pertama, dilakukan seleksi donor, karena perlu memenuhi beberapa syarat. Lalu, mengatur janji untuk donor. Sebab donor plasma konvalesen berbeda dengan donor konvensional, karena memerlukan waktu sekitar 30 menit.

“Jadi pendonor harus melonggarkan waktu. Syarat-syarat sebelum donor seperti nggak boleh makan besar paling lama empat jam, banyak minum dan sebagainya. Nanti setelah jadi kita bagi mendapat 400 cc atau dua kantong, 600 cc tiga kantong, dan bisa 800 cc empat kantong,” terangnya.

dr. Aditya pun mengimbau kepada penyintas Covid-19 yang telah sembuh dan dinyatakan sehat, untuk ikut menolong sesama yang tengah berjuang untuk kesembuhan, dengan cara donor plasma konvalesen. “Jika kemarin jadi penyintas, sekarang jadi penyembuh. Karena waktu nggak lama. Untuk bisa mendonor plasma konvalesen maksimal enam bulan setelah sembuh,” tuturnya.

Baca Juga:   Pemkot dan Bakso Son Haji Sony Kembali Gelar Pertemuan

Ia pun menegaskan untuk tidak khawatir mendonorkan plasma konvalesen, karena pihaknya akan selektif dalam melakukan seleksi sebelum melakukan donor. “Kita sangat selektif, kita periksa,” ucapnya.

Sementara, Masrian (40) pendonor Plasma Konvalesen pertama dengan alat Apheresis mengaku senang dapat mendonorkan plasma konvalesen, sehingga dapat menolong sesama.

Dia melanjutkan, alasan mengikuti donor, pertama karena ada yang tengah dirawat dan membutuhkan Plasma Konvalesen. Kedua, motivasi agar badan lebih sehat. “Gak ada rasa sama sekali, biasa saja. Paling hanya ngilu-ngilu dikit saja. Jadi aman, sehat, dan bisa langsung berdiri saya,” ujarnya usai donor.

Dirinya pun mengajak dan menganjurkan kepada yang telah terkena Covid-19 dapat ikut menyumbangkan plasma konvalesen. “Ya, yang sudah kena saya anjurkan ikut donor, agar bisa menolong sesama. Juga biar makin sehat,” tuturnya. (pip/sur)




  • Bagikan