Bangun Peredam Gelombang Tinggi Sepanjang 11 KM di Lamsel, Ini Jumlah Anggarannya


RADARLAMPUNG.CO.ID – Bangunan peredam gelombang tinggi dibangun sepanjang 11 kilometer di lokasi terdampak tsunami akibat runtuhnya Gunung Anak Krakatau (GAK) 2018 lalu.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Alexander Leda mengatakan bangunan ini diharapkan dapat mengurangi ombak tinggi yang kerap dirasakan warga disekitar wilayah di Pantai Kalianda, Lampung Selatan.





“Jadi memang sejak 2021 lalu kita bangun itu penahan gelombang tinggi di lokasi bekas tsunami karena GAK waktu itu. Pembangunan nya sekitar 11 kilometer,” beber Alex, Selasa (26/4).

Dia mengatakan penanganan dilakukan selama tiga tahun. Pada 2021 lalu dikerjakan sepanjang 3,4 kilometer. Tahun ini, 2022 sepanjang 4,82 kilometer dan tahun depan sepanjang 4,98 kilometer.

Baca Juga:   Siap-siap, Ini Jadwal Pelantikan PJ bupati

Penanganan ini juga dilakukan selama tiga tahun anggaran. Pada 2021 sebesar Rp223 miliar, untuk 2022 sebesar Rp230 miliar dan untuk tahun 2023 sebesar Rp115 miliar. Sehingga total keseluruhan sebesar kurang lebih Rp500 miliar.

“Sebenarnya total keseluruhan kerusakan pasca tsunami ada 18 kilometer, tapi karena ada perbukitan, pegunungan yang tak perlu di protect. Sehingga kami cukup kerjakan kurang lebih 11 km,” lanjutnya.

Pembangunan nya berupa talud penahan gelombang tinggi. Di mana ketinggiannya 4 meter diatas permukaan air. Sementara lebarnya sekita 7,5 meter yang terdiri dari bangunan dek, batu hingga pondasi.

“Fungsi dari proyek ini sebagai pengalaman ombak dan gelombang yang naik, sehingga perbuatan talud ini sebagai upaya melindungi pemukiman, tempat ibadah, dan sejumlah tempat yang perlu di proteksi. Karena gelombang tertinggi di lokasi tersebut pernah dihantam 4 meter tingginya, maka kami buat tinggi nya 4 meter. Harapannya dapat meredam gelombang tinggi,” lanjutnya.

Baca Juga:   Meski Telah Kembalikan Kerugian Negara, Pansus Tetap Beri Catatan

Alex mengatakan ini bukan merupakan bangunan penahan gelombang tsunami. Namun untuk meredam gelombang tinggi.

“Ini bukan bangunan tsunami tapi bangunan untuk meredam gelombang tinggi. Setidaknya bisa meredam gelombang tinggi yang menghantam daerah tersebut,” tandasnya. (rma/yud)