Baznas dan Pemkab Lamteng Luncurkan Program Integrated Farming

  • Bagikan
Baznas dan Pemkab Lamteng meluncurkan program Integrated Farming, Jumat (25/10). Foto Syaiful Mahrum/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id. – Badan Amil Zakat Nasional (Bazanas) Lampung Tengah dan Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM) Baznas Pusat bersama Pemkab Lampung Tengah me-launching program Integrated Farming di Kampung Ruktiendah, Kecamatan Seputihraman, Jumat (25/10). Dengan Integrated Farming, pertanian dan peternakan dapat dipadukan sehingga keuntungan usaha dapat ditingkatkan dan tak menghasilkan limbah bagi lingkungan sekitar.

Ketua LPPM Baznas Pusat Ajat Sudarjat menyatakan program Integrated Farming adalah sistem yang berkesinambungan. “Program ini sistem berkesinambungan. Integrated Farming mampu menyediakan limbah kotor dan pakan yang diproses jadi pupuk organik. Sistem ini bisa menekan biaya produksi dan memperbaiki kesuburan lahan menciptakan usaha pertanian berkelanjutan serta berkesinambungan,” katanya.

Balai Ternak Baznas, kata Ajat, memadukan konsep pembibitan ternak dan penggemukan ternak dengan pemberdayaan masyarakat khususnya petani dan peternak kecil. “Tujuannya meningkatkan populasi ternak dan peningkatan ekonomi masyarakat. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan memberikan aset produktif berupa ternak kambing dan sapi untuk dikelola. Dikembangkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Penerima manfaat di Lamteng, kata Ajat, sebanyak 30 KK dari tiga kelompok. “Kelompok Rambon Asri, Kampung Rejoasri, 10 KK; Kelompok Lumintu, Kampung Ruktiendah, 10 KK; dan Kelompok Langgeng, Kampung Ruktiendah, 10 KK. Ini hasil verifikasi. Hasil studi kelayakan peternak mustahik. Kelompok ternak telah dilakukan pelatihan dasar. Jumlah ternak yang disalurkan 282 ekor kambing terdiri atas 12 jantan, 120 induk, dan 150 bakalan. Setiap peternak memelihara 4 ekor induk dan 5 bakalan. Diharapkan dua tahun bisa menghasilan 504 ekor,” paparnya.

Sedangkan Ketua Baznas Lamteng Sutrisno berharap program ini terus berjalan. “Diharapkan terus berjalan. Dua tahun akan dilakukan pendampingan untuk wujudkan kemandirian ekonomi, kelembagaan, dan mental spiritual. Baznas Lamteng juga akan mengembangkan program pertanian berupa sayur-sayuran di atas lahan 2,5 hektare dengan melibatkan petani sebanyak 5 KK. Jumlah ternak yang disalurkan ini tahap pertama. Totalnya sebenarnya 403 ekor kambing,” ungkapnya.

Sutrisno berharap dengan kegiatan ink bisa menyadarkan masyarakat berinfak, berzakat, dan bersedekah. “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menyadarkan masyarakat yang belum berinfak, berzakat, dan bersedekah. Sebab ini semua disalurkan lagi kepada yang berhak atau mustahik,” katanya.

Sementara anggota Baznas Pusat Munzir Suparta mengatakan Baznas adalah lembaga pemerintah non struktural. “Ini penting disampaikan karena masih ada mindset kehadiran Baznas dianggap merepotkan dan merecoki pemerintah daerah,” katanya.

Baznas, kata Munzir, juga punya peran mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tapi juga pendidikan, kesehatan, dan informasi. Baznas juga punya tanggung jawab mengentaskan kemiskinan. Baznas hadir di ruang yang tak bisa langsung dikeluarkan pemda yang harus melalui prosedur. Saya pesan kepada Baznas kabupaten/kota tugas mulia ini dilaksanakan. Ketua Baznas Lamteng ini pengusaha punya rumah makan 29. Karena mengurusi Baznas tinggal 7 lagi. Sebab, Baznas harus aktif dan bergerak membantu yang membutuhkan. Mudahan Baznas Lamteng lebih baik lagi,” ungkapnya.

Sedangkan Bupati Lamteng Loekman Djoyosomerto mengucapkan terima kasih kepada Baznas yang telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarkat. “Mudah-mudahan Baznas Lamteng semakin maju. Setiap bulan Baznas bisa dapat infak, zakat, dan sedekah Rp250 juta. Ini hasil kerja sama pemerintah daerah dan Baznas. Uang baru didaoat dari ASN Lamteng. Dari swasta belum,” katanya.

Loekman menyatakan, pemerintah daerah punya tim sosial menangani permasalahan di masyarakat. “Kita ada tim sosial menyisir masyarakat tidak mampu untuk berobat. Jika perlu perawatan intensif dibawa ke rumah sakit. Kita libatkan Baznas untuk menbantu keluarga yang menunggu,” ujarnya.

Kepada penerima manfaat, kata Loekman, ini upaya pemerintah agar masyarakat bisa sejahtera melalui Baznas. “Bagaimana mengelola bantuan- bantuan itu, Baznas telah memberi pembekalan. Ini bagus karena selama ini banyak bantuan tak ada pembekalan mengelola. Hasilnya tak ada. Bantuan kambing ini harapannya berkembang, bukan habis. Memang perlu seleksi yang ketat. Tak semua siap secara mental. Mudahan-mudahan Lamteng bisa jadi pilot project,” ungkapnya. (sya/wdi)




  • Bagikan