“Bedah” Soal Sumatera, Peneliti Internasional Kumpul di Itera

  • Bagikan
Itera menggelar konfrensi Icositer 2019 Jumat (25/10). Sejumlah peneliti internasional hadir dalam event ini. Foto Ruri/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id- Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama peneliti asal lima negara merumuskan teknologi dan infrastruktur ramah lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan pada International Conference on Science, Infrastructure Technology and Regional Development (ICoSITeR) di Itera, Jumat (25/10).

Rektor Itera Prof Ofyar Z.Tamin mengatakan, para peneliti menyampaikan perkembangan risetnya terkait permasalahan di Sumatera. Semua penelitian yang berkaitan dengan Sumatera dibahas dalam seminar internasional tersebut.

“Ini adalah agenda simposium internasional tahunan, dimana para dosen kita tidak hanya melakukan tugas pendidikan, tapi juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Itu di satu sisi, yang kedua adalah karena kita excellent for sumatera. Jadi semua penelitian yang berkaitan dengan Sumatera akan dibahas di seminar ini. Sehingga, para peneliti agar saling bertukar gagasan dalam riset dan pemecahan masalah, termasuk mendorong pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan,” ungkapnya, Jumat (25/10).

Baca Juga:   Gelombang Pertama, UIN RL Terima 1.007 Peserta Jalur Mandiri

Lebih lanjut ia mengatakan, yang menjadi topik dalam simposium internasional tahunan tersebut, sejalan dengan 17 point sustainable development goals yang diarahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Tujuan topik hari ini itu sejalan dengan 17 tujuan dari sustainable development goals oleh PBB, dan ternyata ada 7 poin yang cocok dengan kita, dan akan kita jadikan langkah ke depannya. Diantaranya, industry, innovations and infrastructure, dan lainnya,” tuturnya.

Dikatakan Ofyar, Itera diminta pemerintah menjadi pusat unggulan untuk sumatera. Sehingga prodi-prodi yang lahir di Itera berdasarkan kebutuhan dari provinsi-provinsi di Pulau Sumatera.

“Jadi kita panggil semua kepala Bappeda untuk berbicara tentang rencana strategis 25 tahun ke depan apa yang dibutuhkan oleh misalkan Sumatera Utara, Aceh dan lainnya. Sehingga prodi-prodi menghasilkan lulusan-lulusan yang tidak lagi ke Lampung atau Jawa tetapi pasti ia kembali ke daerahnya masing-masing. Karena memang cocok,”katanya.

Baca Juga:   Polda Lampung-UTI kembali adakan gerai Vaksin Presisi di UTI

Sementara, salah satu pemateri Prof. Lester Finch, Auckland University of Technology, New Zealand memaparkan tentang dampak perguruan tinggi terhadap kesejakteraan masyarakat dalam memenuhi target pembangunan berkelanjutan.

Sejak 2019, untuk pertama kalinya universitas mendapatkan peringkat berdasarkan dampak yang ditumbulkan pada masyarakat dan komunitas, melalui Times Impact Education. Prof. Lester Finch juga menjelaskan tentang riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan kampusnya, yang saat ini berada di posisi ke-16 sebagai kampus yang berdampak kepada masyarakat dan komunitas di sekitarnya. (rur/wdi)




  • Bagikan