Berkeras Tetap Dagang, PKL: Kami Bayar Retribusi

  • Bagikan
Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Beberapa pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Bukit Tinggi Pasar Bambu Kuning mengaku kecewa dengan pembongkaran lapak mereka dan akan tetap berdagang di tempat tersebut meski tidak memiliki lapak lagi.

Hal itu diungkapkan oleh Bayina (70) pedagang baju dan Dwi (30) pedagang daster. Mereka mengaku sangat kecewa, sebab lapak tersebut merupakan ladang pencarian mereka untuk menghidupi keluarganya.



“Seribu kali kecewa, karena ini sawah ladang kita cari makan untuk keluarga,” ujar Bayina saat menyaksikan pembongkaran lapak di Jl. Bukit Tinggi, Kamis (30/12).

Baca Juga:   7 Februari, Bandarlampung Mulai Terapkan PTM Penuh

Memang, diakuinya selama berdagang di lapak tersebut dirinya tidak membayar uang sewa lapak. Namun, setiap hari para pedagang rutin membayar retribusi yang total per hari sekitar Rp8 ribu.

“Ya, ada pengembang yang mungut, dinas pasar, juga untuk sampah. Pokoknya Rp2 ribu satunya. Kalau ditotal Rp8 ribu per hari kita bayar retribusi. Ada atau tidak ada pembeli kami tetap bayar,” ungkapnya.

Baca Juga:   Dinas PU Cor 150 Tutup Bak Kontrol yang Hilang

Dirinya mengaku bukan tidak mau pindah ke tempat yang telah disiapkan pemerintah, yaitu di lantai dua dan tiga Pasar Bambu Kuning. Namun ketika 2007 silam pedagang telah coba berdagang di atas, hasilnya jauh dari harapan dan merugi.

“Waktu di atas untung-untung tiga hari ada satu yang beli, kami perlu makan gimana coba, jadi cuma bertahan tiga bulan dan turun. Kalau di bawah alhamdulilah sehari omset bisa Rp500 ribu,” tuturnya.

Baca Juga:   7 Februari, Bandarlampung Mulai Terapkan PTM Penuh

Dwi juga mengaku tidak takut meski telah dibongkar, tetap akan mencari nafkah di bawah. “Karena ini ladang cari makan untuk menyekolahkan anak dan lainnya. Entah itu ngasong atau apa kita tetap dagang di sini,” terangnya. (pip/sur)






  • Bagikan