Blak-Blakan Ketua PD Lampung Edy Irawan Arief, Beber Peran Andi Arief dan Singgung Nafsu Politik


Blak-Blakan Ketua PD Lampung Edy Irawan Arief, Beber Peran Andi Arief Hingga Nafsu Politik
Ketua DPD Partai Demokrat Lampung Edy Irawan Arief. Foto dok Partai Demokrat Lampung

RADARLAMPUNG.CO.ID-Edy Irawan Arief ditetapkan sebagai ketua DPD Partai Demokrat Lampung terpilih pada 3 Januari lalu. Pengurus lama sudah demisioner. Sedangkan pengurus baru belum dilantik. Jadi secara de facto, kepengurusan Demokrat Lampung ini baru dirinya sendiri. Sejak ditetapkan, tentu banyak tugas yang harus dia lakukan.

Berikut kutipan wawancara radarlampung.co.id dengan Edy Irawan Arief di kediamannya, beberapa hari lalu.





 

Apa yang pertama kali Bapak lakukan setelah terpilih sebagai ketua Demokrat Lampung?

Pertama, saya waktu itu mengumpulkan Fraksi (Demokrat DPRD provinsi dan kabupaten/kota). Karena tanggal 15 Januari, saya mau ngantor. Tapi malam tanggal 15 itu kantor digembok. Ini kan juga harus saya selesaikan. Lihat, penyelesaian saya tidak ribut-ribut. Biarkan saja. Dan Alhamdulillah kita punya rezeki.

Memang punya aset yang di Jalan Cut Nyak Dien itu dan kawan-kawan sepakat lebih baik kita ngantornya di Cut Nyak Dien. Alhamdulillah, saya tugaskan Deni (Sekretaris Fraksi Demokrat DPRD Lampung Deni Ribowo) untuk renovasi kecil-kecilan. Dan kegiatan administrasi bisa berjalan. Jadi partai ini tidak mandeg.

Kedua, saya diperintahkan untuk segera menyusun pengurus. Pengurus ini tidak gampang. Saya coba, satu satu. Belum yang titip-titip. Biasa lah. Artinya titip, takut saya lupa kader yang lama. Selesai dan saya serahkan ke dpp Demokrat hasil kerja kita waktu itu. Saya ditelepon Sekjen (DPP Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya). Ada saran-saran untuk penyempurnaan.

Mudah-mudahan, struktur kita ini jadi percontohan. Diperbandingkan oleh sekjen, milenialnya berapa, manulanya berapa, tingkat pendidikannya bagaimana, asal pengurusnya dari mana, pekerjaannya apa? Sekjen minta dalam anatomi yang bagus. Dalam waktu dekat, mudah-mudahan akan diberikan SK-nya.

Saya tidak satu pun saya buang pengurus lama. Kecuali yang nggak mau. Nggak banyak juga. Ada dua kemungkinan. Kecintaan kepada partai atau personil? Ya mungkin yang nggak mau, ini lebih kepada personil. Tapi saya nggak mau ngomong kekurangan. Nanti gibah. jadi terpaksa saya mengganti atau menambah (personil kepengurusan).

 

Kapan pelantikan digelar?

Setelah terbit SK, kan akan muncul tugas selanjutnya. Pelantikan. Nah, pelantikanya ini kan tidak sederhana. Saya menangkapnya, pelantikan ini jadi bagian dari konsolidasi. Tidak sekadar melantik begitu saja. Saya sekuat tenaga menginginkan AHY (Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono) offline datang ke sini. Karena akan ada tiga tambahan acara. Ini kan sebaiknya langsung AHY.

Pelantikannya di Balai Krakatau. Karena gedungnya besar, parkirnya luas. Di depan gedung utama itu ada ruangan sekitar 200 orang. Saya mau mengabadikan nama ‘Ani Yudhoyono’. Sya minta diresmikan.

Kemudian, menjadi sesuatu yang baru di Indonesia. Saya punya kader. Dia punya rumah di Jakarta. Ada lima kamar. Cukup representatif. Dan ini akan diresmikan menjadi mess dan kantor perwakilan DPD Partai Demokrat Lampung di Jakarta. Jadi, kalau ada kader pengurus yang ke Jakarta, boleh nginep di situ.

Ada DPP perlu dengan kader Demokrat Lampung, cukup ke kantor perwakilan. Ada stafnya juga. Luar biasa. Sekjen menyambutnya. Belum ada partai lain atau provinsi lain yang seperti itu. Jadi akan ada peresmian mess dan kantor perwakilan DPD Partai Demokrat Lampung di Jakarta. Saya akan memberikan teladan. Setiap saya ke Jakarta, saya nginep di situ.

Ini harus kreatif, cerdas, membuat sesuatu yang baru, yang menyenangkan masyarakat. Itu nanti saya minta AHY meresmikan itu. Sekarang lagi dipersiapkan.

 

Sudah berkoordinasi dengan ketua Demokrat yang lama, Bapak Ridho Ficardo?

Sebentar lagi. Suksesi sesuatu yang biasa. Nanti ada saatnya komunikasi. Biar saya berbenah dulu, dilantik dulu. Tiba-tiba saya nggak dilantik gimana coba? Sabar dulu. Pasti saya akan berkoordinasi dan what can i do untuk dia, saya lakukan. Nggak ada yang tarung kok ini. Nggak ada yang menang, kalah. Menang semua.

Ridho ke DPP. Menang dia. Pengurus DPP. Malah saya yang kalah cuma pengurus DPD saja. Tapi yakinlah, saya berkonsolidasi dengan DPC dan fraksi tentu dalam dinamikanya. Tapi satu hari saja cair. Terbukti pada saat mengumpulkan fraksi. Orang lain sangka akan ada konflik. Saya anak kiai. Sudah tua. Masak masih mau begitu (berkonflik)?

Apalagi sama Ridho. Saya akan hormat. Lihat fotonya saya pasang. Nanti dipasang di kantor. Ketua Demokrat pertama Atte Sugandhi, Thomas Riska, Ridho, saya. Tetap saya menghormati dia sebagai ketua Demokrat yang lama. Nggak boleh lupa sejarah.

 

Konstelasi musda yang lalu cukup dinamis. Banyak yang meng-understimate Bapak. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Bapak adalah kakak kandung Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat Andi Arief. Bagaimana peran Andi Arief saat musda lalu?

Berperan secara langsung tidak. Kalau tidak langsung, ya bagaimana? Pasti paradigmanya kakak-beradik. Orang tahu itu kakaknya Andi Arief. Secara nggak langsung (berpengaruh di DPP Partai Demokrat). Tapi ditegaskan, saya jadi bukan karena Andi Arief. Karena Partai Demokrat ini kan menurut saya partai yang logic, taat kepada aturan. Kalau sayanya KW KW (tidak berkualitas, Red), juga nggak bakal terpilih.

Hidup ini enak di-underestimate orang. Nggak apa-apa. Orang sangka, saya bukan kader, bukan pengurus. Buktinya pengurus. Itu kan SK pengurus, ada saya. Saya ketua Litbang, wakil saya Heri Wardoyo pada 2010. KTA (Kartu Tanda Anggota) ada. Ngapain saya mengadu ke publik? Saya kan persyaratannya DPP. Biarin saja.

Orang melihat di belakangnya ada Andi Arief. Darahnya diblek ini sama. Jadi hidup ini ya, Agung Lampura (mantan bupati Lampung Utara Agung Ilmu Mangkunegara) jadi bupati, ada nggak perannya Tamanuri (mantan bupati Waykanan yang merupakan ayah Agung, Red). Mau gimana juga, Puan Maharani jadi ketua DPR, ada peran Megawati nggak?

Namanya, ada koneksi yang tidak kelihatan, tidak langsung. Jadi nggak bisa juga pisahkan Edy Irawan dengan Andi Arief. Pisah dulu. Nggak bisa. Orang kakak beradik kandung, bagaimana? Kalau saya boleh milih, saya nggak mau jadi kakaknya Andi Arief. Saya mau jadi anaknya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Nggak jadi ketua DPD, jadi ketua umum saya. Tapi lahirnya nggak bisa milih. Hahaha. Alhamdulilah.

 

Menjelang Pemilu 2024, partai politik mulai bergerak. Demokrat juga kemarin diperebutkan karena akan menjadi kendaraan politik dalam pilkada. Pada 2024, apakah Bapak juga berniat untuk maju pilgub?

Kalau mau sukses, mikir itu nggak boleh lompat-lompat. Sequential, berurut. Berpikir, bekerja, itu berurut. Kan kita sudah dengar, Februari 2024 itu pileg. Dasar pileg itu untuk pilkada. Jadi jangan pikir dulu pilkada itu. Pileg dulu. Hasil Pemilu 2024 bukan sekarang. Dilihat kekuatan Demokrat nanti gimana? Apa tetap sepuluh kursi, berkurang, bertambah? Kita belum tahu.

Jadi maksud saya, ayo kita ngomong pileg dulu, berurut. Jangan loncat-loncat pilkada. Pilkada nanti itu. Saya mahasiswa pascasarjana (Universitas Saburai) saja ada 20 ribu. Waktu saya Direktur ubl maupun Saburai. Alhamdulillah, ketika saya dosen, baik-baik saja. Ini ada 1000 mungkin mahasiswa pasca saya menyambut baik. Wa ke saya.

Insya Allah. Saya kalau dari 10 kursi (DPRD Lampung), saya yakin bertambah. Dari 2 kursi dpr ri, insya Allah minimal satu bertambah. Di kabupaten/kota, ada satu yang kosong. Mudah-mudahan ini nggak ada yang kosong lagi. Kalau cuma ada satu ketua dprd, mungkin bisa ada yang dua. Ada dua yang pimpinan dewan, bisa jadi tiga.

Saya nggak terlalu muluk-muluk untuk memasang target.

Dan kalau jadi ketua parpol, nggak ada nafsu politik, masuk ormas saja. Kalau itu jangan ditanya, pasti! Dan partai ini tidak bergerak kalau ketuanya tidak punya nafsu politik. Cuma nanti ke mana, lihat situasi. Ketua parpol ini bisa gubernur, bisa wakil, bisa DPR RI, nggak tahu kita nanti. Tapi saya nggak ke situ dulu.

Saya pikir, bagaimana pemilu kita menang. Kalau saya berhasil mengelola partai, menang kita. (dna/wdi)