Blokade Jebol, Satu Rumah Warga Dirusak Gajah

  • Bagikan

Radarlampung.co.id – Lebih dari satu bulan terakhir masyarakat Kecamatan Bandarnegeri Suoh (BNS) dan Suoh Kabupaten Lampung Barat diteror oleh kawanan gajah berjumlah 17 ekor yang turun dari habitat aslinya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Meski upaya penghalauan dan blokade kawanan gajah agar tidak mendekat ke permukiman penduduk, namun Sabtu malam (11/9/2021), blokade yang dilakukan berhasil ditembus oleh kawanan gajah, akibatnya satu rumah warga kembali dirusak kawanan gajah beruntung tidak ada korban dalam teror tersebut.


Kepala TNBBS Resort Suoh Sulki mengungkapkan, satu rumah yang mengalami kerusakan tersebut milik Hardi dengan lokasi masuk dalam wilayah Pekon Gunungratu Kecamatan BNS. Kejadiannya diperkirakam sekitar pukul 23.00 Wib.

Baca Juga:   bjb Solo Local Festival Dorong Generasi Muda Majukan Wirausaha

“Sudah tiga hari terakhir kawana gajah tersebut kembali mendekati pedukuhan, dan meskipun blokade terus dilakukan namun sempat jebol dan rumah milik Hardi di lahan garapan yang memang menjadi tempat tinggalnya mengalami kerusakan akibat gajah,” ujarnya.

Dengan hanya berjarak sekitar 300 meter saja dari pedukuhan, kata dia, maka kawana gajah tersebut masih berpotensi untuk turun ke permukiman. Karena itu upaya penggiringan terus dilalukan, dan Satgas Konflik Gajah bersama dengan TNI, Polri dan masyarakat terus melakukan blokade yang diharapkan kawanan gajah tersebut bisa terus menjauh.

“Sebenarnya untuk upaya sudah sangat maksimal, masyarakat se-Kecamatan BNS sangat antusias membantu petugas termasuk melakukan ronda sebagai upaya blokade pada titik-titik yang berpotensi dilintasi gajah ke arah permukiman, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil dan saat ini jumlah kawanan gajah terpantau sebanyak 17 ekor, ” imbuhnya.

Baca Juga:   bjb Solo Local Festival Dorong Generasi Muda Majukan Wirausaha

Untuk diketahui, konflik gajah di Kecamatan Bandarnegeri Suoh dan BNS tersebut telah terjadi lebih dari satu bulan terakhir. Kondisi tersebut tentunya menghambat roda perekonomian masyarakat. Masyarakat berharap ada solusi agar konflik tersebut tidak terus terjadi (nop/wdi)




  • Bagikan