BNPT: Tidak Hanya dari Suriah, ISIS Juga Muncul dan Berada di Marawi

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengajak semua pihak mewaspadai ancaman ISIS.

Menurut Suhardi, ancaman ISIS tidak hanya datang dari pengikut yang pernah menimba ilmu di Suriah, tetapi juga dari Marawi, Filipina.

Suhardi menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam pada round table discussion dengan tema Mengantisipasi Kondisi Keamanan Kawasan Asia Pasifik Guna Mengurangi Implikasinya Dalam Rangka Ketahanan Nasional di Gedung Lemhanas, Jakarta, seperti dikutip dari Jpnn.com (grup radarlampung.co.id).

“Kita benar-benar harus waspada karena bentangan geografis kita yang luar biasa sehingga apa yang terjadi di Marawi berdampak langsung ke Indonesia,” ujar Suhardi.

Dia menambahkan, ada beberapa website radikal yang menginstruksikan anggota ISIS Marawi untuk pindah ke Indonesia.

Baca Juga:   Empat Rumah di Banjit Terbakar

“Sebab, di Marawi sudah tidak memungkinkan. Ini harus kita antisipasi, baik internal pemerintah dan seluruh masyarakat dalam menangkal gerakan sel ISIS dari Marawi ke Indonesia,” ujar Suhardi.

Dia menjelaskan, ada perbedaan mendasar antara ISIS dan Alqaeda.

Pertama, ISIS darah siapa pun yang melawan halal meski seiman.

Kedua, ISIS selalu memiliki teritorial, sedangkan Alqaeda tidak.

Untuk teritorial di Asia Tenggara, ISIS sempat ingin mengalihkan ke Sulawesi Tengah.

Namun, usaha TNI dan Polri membuat ISIS bergeser ke Filipina Selatan. Di sana memang sudah ada beberapa faksi yang menjadi sel-sel ISIS.

“Setelah Marawi hancur bukan berarti selesai. Sebab, jihadis Indonesia masih banyak yang ingin pergi ke sana. Juga dipicu kondisi daerah konflik selalu menjadi medan magnet bagi pengikut ISIS untuk melakukan solidaritas,” ungkap mantan Kabareskrim Polri ini.

Baca Juga:   Awas, Jangan Coba-Coba Timbun Obat dan Oksigen Medis !

Dia menilai radikalisme dan terorisme membuat kebinnekaan Indonesia mulai terganggu.

Terlebih dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat canggih.

Karena itu, dia berharap dengan segera diundangkannya Revisi Undang-Undang Antiterorisme, tahap preparasi radikalisme dan terorisme bisa disentuh. (jpnn/ang)




  • Bagikan