BPCB Banten Rehab Lamban Pesagi

  • Bagikan
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten yang menjadi pemilik Lamban Pesagi mulai melakukan perbaikan struktur bangunan tersebut. FOTO ISTIMEWA
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten yang menjadi pemilik Lamban Pesagi mulai melakukan perbaikan struktur bangunan tersebut. FOTO ISTIMEWA

radarlampung.co.id – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten yang menjadi pemilik Lamban Pesagi mulai melakukan perbaikan struktur bangunan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan gedung yang berada di Pekon Kenali, Kecamatan Belalau, Lampung Barat tersebut sebagai warisan budaya tak benda katagori arsitektur tradisional.

Kabid Kebudayaan Riyadi Andrianto mewakili Kepala Disdikbud Lampung Barat Basri mengatakan, sejak tahun lalu, Lamban Pesagi telah dibeli oleh BPCB Banten. Bangunan tersebut tetap berada di tempat semula agar tidak merubah nilai histori serta pelestariannya.


”Perbaikan dilakukan oleh pihak BPCB Banten. Tidak akan dipindah. Sebab tidak disetujui para arkeolog, sehingga bangunan berikut tanahnya juga dibeli oleh BPCB. Dilakukan pelestarian serta pemiliharaan secara berkala. Tahun ini mulai dilakukan,” kata Riyadi.

Menurut dia, sebelumnya Lamban Pesagi direncanakan akan dibeli oleh Pemkab Lambar. Namun karena tidak menemui kata sepakat soal harga dengan pemilik, serta waktu untuk tim appraisal bekerja dan lainnya tidak maksimal, maka pemkab urung membeli bangunan yang memiliki nilai historis l tersebut.

Baca Juga:   Hati-hati! Perlintasan Area Kebun Karet Tanjung Bintang Tak Aman, Motor Jurnalis pun Disikat Begal

“Meskipun milik BPCB Banten, namun pemerintah daerah tetap turut serta dalam pelestariannya. Seperti biaya kebersihan, biaya litsrik dan air. Selain itu, BPCB Banten dan Pemkab Lambar juga terus berkoordinasi untuk bersama-sama melestarikan cagar budaya tersebut,” sebut dia.

Diketahui, rumah adat tersebut berukuran 8,79 x 7,43 x 9,58 meter dengan orientasi Utara-Selatan. Rumah panggung ini terbuat dari konstruksi kayu dan bambu. Berdiri di atas tiang yang atapnya ditutup dengan ijuk.

Pembagian ruang sangat sederhana. Tidak ada ruang khusus. Susunan tangga masuk langsung menuju ruang tengah. Kamar-kamar dan dapur masing-masing dipisahkan dengan dinding papan.

Lantai bangunan menggunakan pelupuh bambu yang lebarnya 20 cm, yang saling dirangkai dengan ikatan tali ijuk sehingga membentuk lantai. Didukung gelagar melintang dan membujur berbentuk persegi delapan berdiameter 29 cm, yang bertumpu pada tiang dudukan dengan konstruksi tarikan dan pasak. Adapun lapis atasnya berupa tikar.

Baca Juga:   Anggota DPR RI Ini Siapkan Tujuh Ribu Dosis Vaksin untuk Tiga Kabupaten di Lampung

Dinding bangunan terbuat dari susunan papan kayu yang dilengkapi jendela berukuran kecil, sehingga bangunan ini terlihat seperti lumbung padi.

Keistimewaan bangunan ini adalah sambungan pengikat yang tidak menggunakan paku, namun dengan ikatan tambang ijuk pasak. Atap bangunan yang dilapisi lembaran-lembaran ijuk berbentuk mengerucut ke atas, yang dikenal dengan istilah bubung kukus. (nop/ais)




  • Bagikan