Brigjend R.Ahmad Nurwahid: Paham Radikalisme Bukan Monopoli Satu Agama

  • Bagikan
Brigjend R. Ahmad Nurwahid menyerahkan cinderamata kepada Kades Banjarejo. Foto Dwi/Radarlampung.co.id
Brigjend R. Ahmad Nurwahid menyerahkan cinderamata kepada Kades Banjarejo. Foto Dwi/Radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) menggelar diskusi kebangsaan dalam membangun harmoni bangsa.

Acara yang digelar di Balai Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Lampung Timur itu dihadiri Direktur Pencegahan BNPT Brigjend R. Ahmad Nurwahid, Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Centre Ken Setiawan, Chairman Radar Lampung Ardiansyah, Kapolsek Batanghari AKP Syamsu Rijal, Kepala Desa Banjarrejo Puspito.


Pada diskusi itu, Brigjend Ahmad Nurwahid mengajak peserta diskusi memahami tentang tauhid (ke esaan). Menurutnya, tuhan di alam itu hanya satu. Namun, penyebutan oleh masing-masing agama yang berbeda.

Karenanya, bagi yang menganggap tuhan antara agama yang satu dengan lainnya berbeda itu terindikasi paham radikalisme.

Baca Juga:   Dewan Desak Eksektuif Segel Tower Seluler Ilegal

“Radikalisme mengatasnamakan islam adalah proxi untuk menghancurkan islam dan NKRI,” tegas Brigjend R. Ahmad Nurwahid.

Dilanjutkan, berdasarkan data pada 2017, indek potensi radikalisme di Indonesia mencapai 55 persen, kemudian menurun menjadi 38 persen di tahun 2019 dan 12,2 persen di tahun 2020.

Sedangkan, tahun 2021 ini, ditargetkan indek potensi radikalisme berada di bawah 10 persen.

“Radikalisme bukan monopoli salah satu agama, namun ada di setiap individu manusia,” jelas Brigjend R. Ahmad Nurwahid.

Karenanya, Brigjend R.Ahmad Nurwahid mengajak semua peserta diskusi untuk mentaati perjanji yang telah disepakati bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yaitu, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca Juga:   Sebanyak 559 CPNS Lamtim Dinyatakan Gugur

Pada kesemoatan yang sama, Brigjend R. Ahmad Nurwahid berharap kepala desa dan masyarakat dapat melaporkan bila ada warganya yang mulai terpapar paham radikalisme.

Menurutnya, terorisme tidak terlepas dari paham radikalisme. Namun, radikalisme belum tentu teroris.

“Radikal itu pahamnya, teroris itu aksinya. Kami akan memberikan penghargaan bagi kepala desa yang melaporkan ada warga yang terpapar paham radikal,” imbuh Brigjend R. Ahmad Nurwahid. (wid/sur)




  • Bagikan