Budayawan Lampung Iwan Nurdaya Djafar Akan Sampaikan Pidato Kebudayaan

  • Bagikan
Irfan Nurdaya Djafar. dok pribadi

RADARLAMPUNG.CO.ID-Salah satu budayawan Lampung, Iwan Nurdaya Djafar direncanakan menyampaikan pidato kebudayaan yang dihelat Akademi Lampung Gedung Dewan Kesenian Lampung,  Wayhalim, Bandarlampung Sabtu (18/9) pukul 16.00 WIB.

Acara Pidato Kebudayaan ini nantinya dapat juga disaksikan di kanal YouTube Dewan Kesenian Lampung dan kanal YouTube TVRI Lampung.


Ketua Akademi Lampung Anshori Djausal di Bandar Lampung, Kamis (16/9) mengatakan, salah satu program Akademi Lampung adalah menyelenggarakan pidato kebudayaan secara berkala. Pada kesempatan ini, merupakan pidato kebudayaan perdana dari Akademi Lampung akan disampaikan oleh budayawan Iwan Nurdaya-Djafar.

Penyair Lampung Ahmad Yulden Erwin yang sudah membaca teks pidato Iwan menyebutkan, Pidato kebudayaan Iwan bukan hanya melaporkan kegiatan kesenian seniman dan lembaga kesenian Lampung pada masa pandemi covid 19. “Tetapi pidato kebudayaan itu juga mengkaji fenomena yang terjadi secara mendalam. Saya sudah membaca, menurut saya itu pidato kebudayaan yang bagus,” ujar Erwin dalam keterangan pers yang diterima radarlampung.co.id.

Sementara itu, Iwan menuturkan, pidatonya mengusung tajuk “Berkesenian di Musim Pagebluk”. Lebih lanjut, Iwan yang dikenal produktif menulis buku ini, mengatakan, pagebluk adalah padanan untuk kata pandemi.

Di musim pagebluk yang sudah dua tahun lebih melanda bumi yang kita huni ini, imbuh Iwan, cukup banyak korban yang meninggal, diantaranya para seniman.  Selalu ada rasa kehilangan yang lebih, manakala kita mendengar seorang seniman wafat. Seniman adalah sosok yang tak tergantikan.

“Kata orang, tidak akan pernah ada drama Romeo and Juliet seperti yang dihasilkan oleh William Shakespeare. Hal ini, justru karena sifat subyektif seniman yang melekat pada karya tersebut. Kepada para seniman yang telah mendahului kita, kita doakan agar berakhir baik  dan beroleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, ” ujar penerjemah karya-karya sastra dunia ini berharap.

Iwan menambahkan, jika diperhatikan, kegiatan berkesenian di musim pagebluk ini, banyak memanfaatkan media virtual.  Hal ini menandai terjadinya pergeseran fenomena dari aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya.

Fenomena ini disebut disrupsi atau perubahan besar yang mengubah tatanan, seperti ditandaskan Clayton M. Chisthensen dalam bukunya The Inovator Dilemma yang terbit pada 1997. Disrupsi membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, karena khalayak dan lanskap yang berubah baik di bidang komunikasi, bisnis, dan lainnya.

Iwan juga menegaskan, seniman adalah salah satu yang paling terdampak oleh gempuran pagebluk covid 19. Dan oleh karena itu, seniman ditantang untuk menciptakan karya seni dalam konteks kreasi baru. Seniman yang kehilangan panggung atau wadah kegiatan karena pagebluk, dengan dukungan tekonologi digital memindahkan tempat pentasnya ke panggung digital, melalui fitur live streaming dengan aplikasi Zoom, Instagram, Facebook, Youtube dan lainnya.

“Di era disrupsi ini justru para seniman mempunyai panggung virtual yang bisa dinikmati oleh khalayak di seluruh pelosok dunia. Di era disrupsi, dengan panggung digital seniman yang kreatif akan makin mendunia, ” terangnya.

Iwan menandaskan, terbukti bahwa para seniman dan lembaga-lembaga kesenian di Lampung tetap berkiprah pada musim pagebluk Covid 19.  Dengan sikap kreatif mereka, para seniman menolak untuk berdiam diri terus berkreativitas dan berkarya. “Mereka terus mencipta dan berkesenian di musim pagebluk ini. Maka, musim pagebluk menjelma semacam musim panen kesenian di tangan para seniman Lampung,” tutupnya. (rls/wdi)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan