Buntut Ricuh di Balai Kampung, Pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin Lapor Polisi

  • Bagikan
Ilustrasi dok jawapos.com

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin melaporkan peristiwa dugaan penganiayaan yang terjadi di Balai Kampung Gunung Tapa Ilir, Kecamatan Gedungmeneng, Tulangbawang.

Dugaan penganiayaan terjadi saat pertemuan antara pihak yayasan, masyarakat dan pemerintahan kampung yang membahas soal ijin pendirian Lembaga Pendidikan Yayasan Hidayatul Muslimin.


Pertemuan sendiri berakhir ricuh karena diduga terjadi miskomunikasi saat pertemuan terjadi. Bahkan video ricuh sempat viral dan tersebar. Pertemuan terjadi pada hari Rabu (28/7) lalu di Balai Kampung Gunung Tapa Ilir.

Dalam video berdurasi 2:50 detik itu, terlihat salah seorang berbaju putih yang duduk di kursi bagian depan membanting gelas yang ada di atas mejanya. Kemudian, beranjak mendekati seseorang yang sedang menyampaikan sambutan dan terjadilah kericuhan.

Di video terlihat ada seseorang yang diduga melakukan aksi mencekik leher, ada yang menenteng kursi, ada saling dorong dan sebagian ada yang berusaha menghalau dan melerai atau memisah keributan itu.

Sosok berbaju putih yang membanting gelas tersebut adalah Kepala Kampung (Kakam) Gunung Tapa Ilir, Normansyah. Dan yang didekati adalah pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin, Rahmad Hidayat. Sedangkan dalam video yang diduga dicekik dari belakang adalah Ketua Yayasan Hidayatul Muslimin, Muhammad.

Baca Juga:   Satu Keluarga Korban Lakalantas di JTTS Hendak Tahlilan di Sumsel

Terkait peristiwa tersebut, pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin akhirnya melapor ke Polres Tulangbawang terkait dugaan penganiayaan terhadap salah seorang pengurus. Laporan tertuang dalam surat tanda terima laporan polisi Nomor: STTLP/B-205/VII/2021/LPG/RESTUBA. Dengan terlapor yang diduga melakukan penganiayaan dalam surat laporan adalah S. “Iya betul setelah peristiwa itu kita langsung lapor ke Polres Tulangbawang,” kata salah satu pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin, Rahmad Hidayat, Minggu (1/8).

Dia menjelaskan, saat itu usai Kakam Normansyah membanting gelas lalu maju ke depan. Ketika itu pelapor yang merupakan Ketua Yayasan Hidayatul Muslimin, Muhammad, mengangkat kursi kedepan dengan tujuan agar tau lebih dekat apa yang sedang terjadi. “Tiba-tiba dicekiklah dari belakang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kakam Gunung Tapa Ilir Normansyah mengaku reflek saat membanting gelas ketika pertemuan tersebut.

Menurutnya, saat kericuhan terjadi beberapa peserta rapat hanya berinisiatif untuk mencegah agar kericuhan tidak semakin menjadi-jadi tanpa bermaksud menciderai siapapun. “Tidak ada yang bermasalah. Hanya ada sedikit yang miskomunikasi sehingga saya reflek membanting gelas. Diluar dari itu tidak ada yang terluka,” jelasnya.

Baca Juga:   Satu Keluarga Korban Lakalantas di JTTS Hendak Tahlilan di Sumsel

Terkait laporan polisi yang dilakukan oleh pengurus Yayasan Hidayatul Muslimin, Normansyah mengaku siap jika suatu saat diminta oleh aparat Polres Tulangbawang untuk memberikan keterangan. “Terkait (laporan polisi) itu kapanpun dimintai keterangan kita siap,” tegasnya.

Sementara terlapor dalam peristiwa tersebut S, mengaku tidak ada niat untuk menciderai. Ia mengungkapkan hanya ingin mencegah agar situasi tidak semakin ricuh. “(terkait video dugaan kekerasan) tidak ada maksud. Jadi karena terjadinya itu, dia (pelapor) bawa kursi mau lempar kepala kampung disitu saya tarik. Lehernya betul saya turunkan, tapi bukan saya sendiri disitu ada orang banyak. (saya) tidak mencekik,” terangnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Tulangbawang AKP Sandy Galih Putra saat dikonfirmasi terkait laporan dugaan penganiayaan tersebut belum memberikan respon. Pesan whatsapp wartawan ini terkirim namun belum mendapatkan balasan. Sementara saat dihubungi melalui sambungan telepon AKP Sandy belum mengangkat. (nal/wdi)




  • Bagikan