Bustanul Falah Target Santri Khatamkan 6 Kitab Kuning

  • Bagikan
Para santri Bustanul Falah tengah belajar. Ruri/radarlampung.co.id

radarlampung.co.id-Pondok Pesantren Bustanul Falah menargetkan para santrinya untuk mengkhatamkan enam kitab kuning sampai puasa hari ke 23 selama Bulan Ramadan.

Pemilik dan pengurus Ponpes Bustanul Falah KH Izzudin Abdusalam menjelaskan, pihaknya menargetkan dirinya dan santri untuk khatam enam kitab kuning.


“Kalau hari biasa, sama juga, biasanya butuh tiga bulan kita bisa khatam. Tetapi, untuk Ramadan kita lebih ditingkatkan dalam segi pengajian dan pengkajian ini,” ujarnya, Selasa (14/5).

Ia menerangkan, pada hari biasa, pengajian dan pengkajian kitab dilaksanakan tidak sampai pukul 1 atau 2 dini hari seperti pada Bulan Ramadan. Sebab, pada malam hari biasa pengajian dan pengkajian dilaksanakan ba’da maghrib, tetapi pada bulan Ramadan dimulai setelah salat Tarawih. Juga pada pagi dan siang hari.

“Jadi, contoh kalau hari biasa yang namanya pengajian dan pengkajian tidak sampai pukul 1 atau 2 dini hari. Jam 11 malam sudah kalau hari biasa. Tapi kalau bulan Ramadan, kita punya target yang harus dikhatamkan sekitar lima kitab, jadi bisa lebih malam selesainya,”jelasnya.

Dikatakannya, pengajaran di Ponpes yang berdiri pada 2004 lalu, menerapkan metode pengajaran klasikal. Dimana, pengajaran dengan duduk lesehan atau tanpa bangku.

“Dari dulu metode pembelajaran seperti itu. Jadi, kita menerapkan metode ala dulu. Yaitu gaya klasikal,” imbuhnya.

Untuk diketahui, pada siang hari, santri akan mempelajari Kitab I’anatuttolibin Sarafatul Mu’in yang mempelajari ilmu fiqih. kemudian, dilanjut malam hari yakni Kitab Isagoji’ yang mempelajari ilmu mantik. Lalu, Kitab Latoipul Isarot tentang ushul fiqih.

“Kemudian, Kitab Burda’ tentang hadis, dan Kitab Mattan Sanusiah tentang ilmu tauhid, serta Kitab Nadom Maksud, yaitu kitab ilmu shorof. Jadi, kita mempelajariya secara bergantian,”terangnya.

Sementara, untuk jumlah santri saat ini mencapai sekitar 150 santri dan santriwati, yang terdiri dari santri yang mukim, dan tidak mukim.

“Ada juga yang tidak mukim, santri tinggal di sekitar Bandarlampung, ya sekitar 50 orang, tapi kalau yang mukim ya tinggal di sini, sehari-harinya. Kemudian, untuk mondok ya minimal 5 tahun, itupun setelah selesai, saya rekomendasikan untuk belajar lagi di sana, atau dimana. Kalau usia, minimal usia SMP sampai tidak terbatas,”pungkasnya. (rur/wdi)




  • Bagikan