Butuh Uang untuk Beli Kuota Internet, Remaja Ini Nekat Jadi Kurir Sabu

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID – AAP harus duduk di kursi pesakitan. Remaja yang masih menginjak usia 16 tahun ini didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai kurir sabu.

Nasib tak mengenakkan itu berawal pada Senin (3/8), sekitar jam 18.30 WIB lalu. Saat itu, warga Kelurahan Kotakarang Raya, Kecamatan Telukbetung Timur (TbT), Bandarlampung itu sedang berada di rumah kakeknya. Hingga datanglah Arif (DPO).

Awalnya, AAP dan Arif bermain game di kamar rumah kakeknya. Namun, Sekitar pukul 22.30 WIB Arif tiba-tiba mengajak AAP mengantar sabu-sabu kepada Dona (DPO), di Kelurahan Kotakarang Raya, TbT.

Tanpa pikir panjang, AAP ternyata menyanggupi. Ternyata, ia sedang butuh uang untuk beli kuota internet. Mirisnya, Arif hanya membayar upah AAP sebesar Rp10 ribu untuk mengantarkan sabu itu.

“Setelah itu Arif memberikan 1 buah plastik klip kecil yang berisikan sabu-sabu, dan AAP menerimanya lalu disimpan dalam kantong celana bagian depan sebelah kanan,” kata JPU Elsa Liyanti, Kamis (27/8).

Baca Juga:   Ada Kendala Soal BLT, Masyarakat Bisa Lapor Bhabinkamtibmas

Ketika itu, AAP dan Arif berangkat ke Salon Dona, saat akan masuk di salon tersebut, sabu itu diambil AAP dari kantong celana kemudian digenggam.

Pada saat AAP sedang membawa sabu-sabu dan masuk ke dalam Salon Dona, dirinya langsung ditangkap beberapa orang berpakaian preman yang ternyata polisi.

Kemudian, dirinya berikut barang bukti satu buah plastik klip kecil dibawa ke Satresnarkoba Polresta Bandarlampung guna penyidikan lebih lanjut.

Atas hal itu, AAP pun didakwa melanggar Pasal 112 Ayat (1) Undang–Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pun dijatuhkan pidana penjara selama 6 bulan.

Menanggapi tuntutan tersebut, Penasehat Hukum AAP: Dahlan, mengatakan bahwa terdakwa tidak mengetahui jika barang yang diantarkan tersebut merupakan narkotika jenis sabu.

Baca Juga:   Polisi Tetapkan 3 Tersangka Penganiayaan Perawat

“Dia hanya berpikir bahwa dia butuh kuota internet, jadi dia mau mengantarkan barang tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, AAP merupakan korban penjebakan yang dilakukan Arif lantaran terdakwa masih di bawah umur dan mudah dikelabui.

“Intinya dijebak, karena faktor lingkungan juga, dia ini hanya diupah Rp10 ribu. Tadi guru ngajinya, RT juga datang ke pengadilan mengatakan bawa anak itu aktif di pengajian bahkan sebagai pembantu dari guru ngaji,” terang dia.

Setelah mendengar tuntutan tersebut, pihaknya selaku PH terdakwa meminta agar AAP dibebaskan karena sang anak masih memiliki masa depan.

“Kami sebagai penasehat hukum meminta dengan sangat supaya anak ini dikembalikan kepada orang tuanya, karena dia masih punya masa depan yang panjang,” pungkasnya. (ang/sur)




  • Bagikan