Cari Calon Atlet, Squash Lampung Bakal Ekspansi Sekolah dan Kampus

  • Bagikan
Rudi Antoni. FOTO ANCA/RADARLAMPUNG.CO.ID 

RADARLAMPUNG.CO.ID – Baru saja diresmikan menjadi cabang olahraga (cabor) prestasi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung –di rapat akhir tahun beberapa waktu lalu– kini pengurus provinsi (pengprov) Persatuan Squash Indonesia (PSI) Lampung sedang mencari calon atlet squash.

Sekedar informasi, squash atau tenis dinding merupakan cabor asal Inggris. Olahraga ini dimainkan dua pemain dalam sebuah ruangan tertutup dengan saling berbalas memukulkan bola ke sebuah dinding yang menghadap pemain.


Rudi Antoni, Sekretaris Umum (Sekum) PSI Lampung menjelaskan, pada 11 Agustus lalu, Squash Lampung resmi didirikan dan ditandatangani oleh Sylviana Murni sebagai Ketum Squash Indonesia. Squash Lampung kini diketuai oleh Ahmad Bastian SY. “Lampung pengurus yang terbentuk ke 26 di Indonesia. Dan keempat di Sumatera,” jelasnya.

Baca Juga:   Tim Softball Lampung Kalahkan Sultra 11-3

Saat ini, kata Rudi, pihaknya masih fokus konsolidasi internal pengurus. Target terdekat kata Rudi yakni memperkenalkan olahraga squash ke masyarakat Lampung. Mengingat, squash masih asing di telinga masyarakat.

Perkenalan squash ini, kata Rudi, akan dimulai di sekolah-sekolah dan lingkungan kampus. Bahkan, pihaknya menginginkan squash bisa menjadi ekstrakulikuler dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) di kampus.

“Ini pertama kali di Lampung, jadi kita masih merintis dan mencari bibit-bibit atlet squash. Langkah awal kita sosialisasikan squash ke sekolah tingkat menengah, atas dan perguruan tinggi. Kita ingin coba squash masuk sebagai ekstrakulikuler dan UKM,” ujarnya diamini Kabid Pembicaraan Prestasi Squash Lampung, Lukman Hakim.

Bahkan, dirinya mentargetkan kepengurusannya untuk dua tahun menghasilkan atlet. “Kita minta periodesasi kepengurusan kami mungkin dua tahun kepengurusan kami memiliki insan atlet yang mumpuni,” sambung Rudi.

Baca Juga:   Dear Peraih Medali, Ada Bonus Menanti

Squash, kata Rudi, olahraga yang cukup simpel. Sebab, tidak membutuhkan banyak lahan. Hanya cukup ruangan tertutup yang seukuran setengah lapangan tenis lantai. Meski dilihat terkesan gampang, namun olahraga yang bertumpu pada raket tersebut membutuhkan konsentrasi dan daya tahan tubuh.

Bicara fasilitas latihan, ia mengaku di Lampung, belum ada tempat untuk olahraga squash. Karenanya, pihaknya meminta perhatian pemerintah agar bisa menyediakan fasilitas. “Tempat untuk latihan kita belum punya. Karena covid jadi kita ada keterbatasan. Secepatnya kita usahakan,” tandasnya. (nca/sur)




  • Bagikan