Cerita Dibalik Melati Putih Bangsa, Kaum Kartini Milenial

  • Bagikan
foto dok BTPN Syariah for radarlampung.co.id

#Bankir Pemberdaya BTPN Syariah Inspiratif

KEBERUNTUNGAN mungkin tidak akan didapat oleh semua orang di dunia, sebab nyatanya sebagian besar kehidupan adalah kerja keras. Hal itulah yang berusaha digambarkan oleh para Bankir Pemberdaya BTPN Syariah atau yang juga disebut dengan Melati Puti Bangsa, kepada watawan koran ini saat dijumpai, Jumat (17/4).

LAPORAN ELGA PURANTI, BANDARLAMPUNG

Di tengah isu penyebaran virus corona, tidak menyurutkan keinginan mereka untuk berbagi pengalaman dan cerita menarik kepada Radar Lampung. Sore itu, wartawan koran ini bertemu dengan para melati putih bangsa BTPN Syariah dan berbincang tentang kehidupan.

Cindy Oktaviani misalnya, gadis yang telah bergabung bersama BTPN Syariah sejak 3 tahun lalu itu mengaku punya mimpi untuk menjadi sarjana. Namun, keterbatasan dana membuatnya tidak mendapatkan restu dari orang tua, dan tidak punya pilihan selain turut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

“Waktu itu ayah saya mengalami masalah dipekerjaannya, sementara ibu saya tidak bisa apa-apa. Saya sempat ikut SNMPTN, tapi ibu waktu itu tidak kasih ijin saya untuk kuliah dan meminta saya untuk bekerja saja,“ kata gadis kelahiran 1999, tersebut.

Cindy pun hanya bisa menurut dan mulai mencari info lowongan pekerjaan. Kala itu, dia dipertemukan dengan BTPN Syariah dalam acara Job Fair Lampung. “Waktu itu saya langsung ke BTPN Syariah karena perbankan ini bisa memberikan pekerjaan untuk saya yang hanya tamatan SMA,“ katanya.

Seminggu kemudian, Cindy mendapat SMS dari BTPN Syariah untuk datang ke kantor untuk mengirimkan dokumen. Sayangnya, kala itu usia Cindy belum genap 18 tahun, sehingga tidak bisa langsung diterima bekerja oleh pihak bank.

“Saya diterima, tapi saya tidak bisa langsung bekerja karena masih harus menunggu sampai oktober dimana saya genap 18 tahun. Tapi meskipun begitu saya tetap bersyukur, karena ternyata perbankan yang mau menerima saya yang tamatan SMA ini bener-bener ada,“ katanya.

Meski memutuskan untuk bekerja di usia muda dan membantu perekonomian keluarga, nyatanya mimpi untuk menjadi sarjana tetap dapat diraih. Tidak hanya Cindy yang kini berhasil menempuh kuliah dengan usaha sendiri, Irmalasari yang juga telah menjadi bankir pemberdaya BTPN Syariah sejak 5 tahun lalu.

“Alhamdulillah, ketika itu saya mendapatkan tawaran dari BTPN Syariah untuk melanjutkan kuliah dengan program beasiswa Kuliah Ku. Kalau dulu saya tidak bekerja disini, mungkin saya nggak kepikiran untuk melanjutkan sekolah,“ terang Irmalasari.

Tidak hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, Irmalasari bahkan dapat membantu membiayai sekolah adiknya dan memperbaiki ekonomi keluarga. Hasil dari kerja keras tersebut juga diakui Suci Febriani, yang telah 6 tahun menjadi Bankir Pemberdaya BTPN Syariah.

Wanita lulusan SMAN Gunung Sugih, Lampung Tengah ini mengaku punya misi untuk memperbaiki perekonomian keluarga saat memutuskan bergabung dengan BTPN Syariah. “Alhamdulillah, selama 6 tahun bekerja, saya bisa beli mobil, merenovasi rumah, dan menabung juga,“ katanya.

Memutuskan bekerja di usia muda bukan sebuah pilihan yang menyenangkan. Terlebih menjadi seorang Bankir Pemberdaya yang punya tugas untuk meyakinkan nasabah dan memberikan solusi ketika dibutuhkan. Ketika menghadapi hal sulit, mereka terang-terangan mengaku pernah berpikir untuk berpikir.

Namun, tuntutan ekonomi serta harapan untuk memperbaiki hidup membuat mereka tidak ingin cepat menyerah. Berbagai pengalaman selama bekerja pun sulit dilupakan dan menjadi cerita yang menarik untuk dikenang. Salah satunya, seperti yang dirasakan Yulia Fitri yang sudah 7 tahun menjadi Bankir Pemberdaya.

Di tempat jauh dari rumah, tidak menyurutkan niat Yulia untuk terus berjuang mencari nasabah. “Sekali waktu pernah saya mau pulang dari Rawajitu ke Unit II, karena sudah kemalaman, akhirnya terpaksa nebeng Fuso yang lewat sama teman. Tapi itu menjadi pengalaman juga buat saya,“ katanya.

Tidak hanya pengalaman berharga untuk dikenang, menjadi Bankir Pemberdaya dan berurusan langsung dengan nasabah dari kalangan keluarga pra-sejahtera juga memberikan banyak pelajaran hidup bagi Yulia dan teman-temannya.

Ade Irma Suryani misalnya, selama hampir 2 tahun menjadi Bankir Pemberdaya, dirinya banyak mendapatkan inspirasi usaha dari para nasabah yang ditemuinya di lapangan. Hal itu jelas menjadi bekal bagi dirinya ketika Irma nantinya tidak mampu lagi bekerja di lapangan.

“Usaha tukang jahit misalnya, ilmu yang saya dapat dari nasabah itu saya sampaikan ke kakak saya yang kebetulan punya hobi menjahit dan alhamdulillah sekarang bisa membuka usaha menjahit yang berproduksi setiap hari,“ tandasnya.

Menurut mereka, menjadi Bankir Pemberdaya merupakan pekerjaan yang menyenangkan Dimana mereka tidak hanya dapat mewujudkan mimpi mereka untuk bersekolah atau memperbaiki keadaan ekonomi keluarga, namun juga membantu para nasabah mewujudkan mimpi mereka dan memiliki usaha mandiri. (*)



  • Bagikan