Cerita Peserta Tunanetra ‘Pejuang’ UTBK-SBMPTN Unila, Inspiratif !

  • Bagikan
Peserta penyandang tunanetra Mirna Ega Melisa dan Eska Setia Lestari mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK- SBMPTN) yang digelar di Universitas Lampung (Unila), Kamis (15/4). Foto M. Tegar Mujahid/radarlampung.co.id

KETERBATASAN tak membuat Mirna Ega Melisa dan Eska Setia Lestari mengandaskan cita-cita menatap masa depan yang cerah. Keduanya tetap mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK- SBMPTN) yang digelar di Universitas Lampung (Unila), Kamis (15/4).

Laporan Rimadani Eka Mareta, Bandarlampung


 

RADARLAMPUNG.CO.ID-Kamis (15/4) pagi, Ruang 107 Gedung TIK Unila tak seramai biasanya. Hanya ada lima orang terlihat didalam ruangan yang juga dilengkapi dengan peralatan komputer. Ruangan disiapkan Unila sebagai lokasi tes UTBK-SBMPTN kali ini diisi peserta dengan keterbatasan, disabilitas.

Dua diantaranya adalah Mirna Ega Melisa dan Eska Setia Lestari. Keduanya merupakan calon mahasiswa yang melaksanakan UTBK-SBMPTN dihari ke 4 pelaksanaan UTBK-SBMPTN saat ini. Namun, mereka berdua mengerjakan tes sedikit berbeda.

Berangkat pagi dari rumah masing-masing dengan ojek online menuju Ruang TIK Unila, keduanya masuk dalam ruang yang sama. Tetap menerapkan protokol kesehatan, keduanya duduk bersebelahan.

Meskipun, keduanya memang memiliki keterbatasan di penglihatan, namun ini tidak membuat mereka patah semangat.

Berbekal informasi yang diberikan panitia, earphone, dan komputer, keduanya menjalani tes selama 150 menit. Keduanya tidak banyak berbicara. Namun, jarinya tetap aktif dalam mengklik mouse dan keyboard yang menjadi alat bantu dalam menyelesaikan soal.

Tepat 10.30 WIB, waktu tes selesai. Keduanya meninggalkan ruangan dengan dibantu panitia yang ikut menjaga ruangan tersebut.

Baca Juga:   Berawal dari Anak Cekcok, Bapak Bacok Tetangga

Mirna Ega Melisa dari SMAN 14 Bandarlampung ini menceritakan tak banyak mengalami kesulitan dalam hal teknis selama tes. Hanya beberapa hapalan memang sempat terlupa.

“Kalau hal teknis tidak sulit, hanya tadi lupa beberapa hapalan. Kalau dari awal nggak susah, awalnya memang dibantu memasukan pin, terus login dan udah ngerjain soalnya sendiri,” jelas Melisa.

Meskipun keterbatasan, dirinya tidak pantang menyerah. Melisa yang mendaftar di jurusan Psikologi UNJ ini tetap optimis.

Cita-cita yang ingin dikejarnya sangat mulia. Melisa ingin membantu semua orang dalam mengatasi persoalan yang dialami agar menemui solusi.

“Ya pasti saya ingin kuliah dan ingin mencoba berbagai jalur penerimaan, yang mana yang dapet akan diambil. Cita-cita jadi psikolog karena suka belajar psikologi dan saya ingin aja kalau ada temen-temen bantuin mencari solusi dari ilmu-ilmu psikologi,” jelasnya.

Serupa, Eska Setia Lestari, yang berasal dari SMA SLB Bina Insani ini juga tidak mengaku ada kesulitan dalam mengerjakan soal. Dirinya mengatakan bisa mengerjakan dari hampir lebih dari 100 soal yang disediakan.

Eska yang mendaftar di Bimbingan konseling (BK) FKIP Unila ini pun bercita-cita bisa memahami karakter diri dan orang lain. “Daftar ini karena suka dan ingin memahami karakter diri sendiri dan orang lain,” jelas Eska.

Dirinya pun berpesan pada masyarakat, terutama siswa yang ingin meraih cita-cita dengan kuliah untuk tidak berhenti menyerah. Terutama yang masih bisa normal dalam menjalani kegiatan selama ini.

Baca Juga:   Bandarlampung Tutup Semua Tempat Wisata Pada Natal dan Tahun Baru

“Buat yang lain jangan menyerah, bahkan kami yang punya keterbatasan punya semangat yang tinggi. Maka harus maju terus pantang mundur,” jelasnya.

Sementara Humas Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unila, M. Komaruddin mengatakan dalam pelaksanaan tes, peserta disabilitas menggunakan aplikasi khusus. Di mana bisa mengubah seluruh perintah dalam aplikasi menjadi suara.

“Jadi ada perangkat lunak ada khusus yang mampu mengubah teks menjadi suara, text to speech, dilengkapi headset agar bisa mendengar sehigga bisa menyelesaikan ini mandiri. Mereka sendiri kita lengkapi dengan earphone untuk membantu mereka dalam membaca soal dan memberikan jawaban,” ujar Komar.

Dengan begitu, Unila sendiri berharap seluruh calon siswa bisa mengikuti tes dengan maksimal. “Harapannya mereka bisa melakukan tes dengan mengeluarkan kemampuan maksimal, sehingga tidak terhambat perangkat yang membantu mereka,” tambahnya.

Sementara selama empat hari pelaksanaan UTBK, Komar mengatakan sebanyak 122 orang tidak hadir dalam tes, sementara 2318 peserta lainnya hadir. Untuk diketahui, UTBK-SBMPTN gelombang 1 ini di Unila diikuti 8249 calon mahasiswa. Sementara pada gelombang ke dua nantinya akan diikuti 7859 calon mahasiswa. Sehingga total pendaftar UTBK-SBMPTN di Unila sebanyak 16.108 orang. (rma/wdi)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan