Dapatkan Sarpras Paling Mahal Dari KKP RI, Petambak Dipasena Lanjutkan Revitalisasi Mandiri

  • Bagikan
Kapal keruk penyedot lumpur (Dredger) yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI). Foto Dok. P3UW Lampung
Kapal keruk penyedot lumpur (Dredger) yang diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI). Foto Dok. P3UW Lampung

Radarlampung.co.id – Para petambak udang di Bumi Dipasena, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang kembali mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Terbaru, para petambak mendapatkan bantuan kapal keruk penyedot lumpur (Dredger) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI).


Dredger senilai Rp35 Miliar tersebut merupakan hasil pabrikan Amerika Serikat. Kapal dengan seri IMS 7012 ini berkekuatan 500 horse power dan telah melalui pemeriksaan spesifikasi oleh tim KKP dan pihak penyedia.

Dengan kekuatan mesin 500 horse power, alat ini membutuhkan konsumsi bahan bakar 30 liter perjam. Dredger ini juga memmpunyai kemampuan hisap 1200 M³ perjam. Dengan presentase 80 persen liquid (air) dan 20 persen material lumpur (solid).

“Kami berharap alat ini digunakan dan di rawat sebaik mungkin. Mengingat mahalnya harga alat tersebut, dan ini merupakan pembelian sarana prasarana (sarpras) paling mahal dari KKP,” kata koordinator sarana dan prasarana kawasan direktorat kawasan dan kesehatan ikan KKP Rhido Karya Dongoran.

Baca Juga:   Kasus Pengeroyokan Siswa SMP di Menggala Berujung Laporan Polisi

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung Suratman mengucapkan terimakasih kepada pemerintah daerah, provinsi dan pusat atas perhatian dan bantuan kepada para petambak di Bumi Dipasena.

“Alat ini akan kami manfaatkan untuk melakukan revitalisasi di seluruh saluran-saluran perairan di kawasan pertambakan dipasena,” kata Suratman, Kamis (18/11).

Menurutnya, setelah seluruh saluran perairan dilakukan revitalisasi, para petambak akan lebih berani untuk meningkatkan jumlah penebaran bibit udang sehingga produksi juga akan meningkat.

Terpisah, ketua koperasi petambak bumi dipasena (KPBD) Karnadi Adrianto menjelaskan, bantuan dredger tersebut akan langsung digunakan para petambak untuk melanjutkan revitalisasi mandiri.

“Biaya operasional alat ini cukup mahal. Untuk mengakalinya para petambak akan gotong royong terkait pembiayaannya secara swadaya,” ungkap Karnadi.

Pengurus P3UW Lampung bidang budidaya Sutikno Widodo menjelaskan, revitalisasi merupakan hal yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan produksi.

Baca Juga:   Modus Baru, Beritahu Korban Dapat Bansos Lalu Gasak Handphone

Menurutnya, saat ini kondisi saluran perairan di dipasena sangat memprihatinkan. Laju sedimentasi di saluran pasok dan water break sangat tinggi, berakibat pada rendahnya kualitas air untuk budidaya. Bahkan volumenya sangat kecil dan tidak mencukupi kebutuhan budidaya.

Dilanjutkan, dengan adanya alat tersebut proses pengerukan dan pembuangan lumpur akan lebih maksimal. Sehingga percepatan revitalisasi akan terwujud, mengingat luas cakupan wilayah dan banyaknya saluran-saluran perairan budidaya di dipasena.

“Harapan kami setelah seluruh saluran pasok air di revitalisasi, budidaya akan semakin mudah. Petambak lebih leluasa melakukan sirkulasi pergantian air yang berkualitas dan dapat meningkatkan jumlah produksi. Sehingga dipasena bisa menjadi salah satu penyumbang terbesar udang Nasional di tahun-tahun mendatang,” tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah pusat melalui KKP juga telah memberikan bantuan dua unit ekskavator untuk kebutuhan revitalisasi tambak udang di Bumi Dipasena. (nal/sur)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan