Dari Masa Depan, Tema Festival Tubaba 2019

  • Bagikan
Semi Ikra menjelaskan makna masing-masing lukisan di Kota Budaya, rumah panggung, Panaragan Jaya, Tubaba. Foto IST

radarlampung.co.id – Sejak 2016, Pemkab Tulangbawang Barat (Tubaba) secara konsisten menggelar program pelatihan kesenian untuk warga  meliputi sastra, teater, seni rupa, tari dan film. Program ini diturunkan dari filosofi Tubaba “Nemen, Nedes dan Nerimo” (Nenemo) yang berarti bekerja keras, konsisten, dan ikhlas.

Tujuan pelatihan bukan untuk menjadikan peserta didik menjadi seniman, tapi bagaimana melalui proses kesenian peserta di ajak bekerja keras untuk menciptakan karya estetis, semuanya harus dilalui secara konsisten dan pada gilirannya mesti diterima secara ikhlas saat orang lain menatap karya dengan pandangan berbeda atau bahkan kritik tajam sekalipun.

Nilai-nilai seperti respek, empati dan terbuka terhadap perbedaan adalah nilai-nilai yang terinternalisasikan melalui program ini. Sebagai contoh di dalam kerja kreasi teater peserta didik yang telah berproses selama dua bulan dilatih seluruh piranti tubuh mereka seperti kelentukan, kelenturan, kekuatan, perasaan dan nalar mereka, lantas kekuatan setiap individu bertemu dengan individu lain, menghilangkan ego masing-masing, suka atau tidak suka pada yang lain tapi untuk menemukan satu nilai estetik apa-apa yang mengganjal dilenyapkan.

Direktur Festival Tubaba 2019 Semi Ikra Anggara menjelaskan, untuk edisi tahun 2019 mengambil tema Dari Masa Depan, sebuah metafor tentang visi sebuah kota dari generasi muda. Maka visi tersebut akan terlihat dalam presentasi karya mereka, di dalam seni rupa berbagai tematik dan teknik akan terurai dalam setiap karya rupa mereka.

Enam grup teater yang meskipun masih menggunakan naskah-naskah lama tapi coba ditafsirkan oleh pikiran mereka yang milenial, sedangkan musik mencoba memainkan elemen pentatonik dan diatonik untuk mewujudkan musik kolaboratif. Sementara tari Nenemo akan menampilkan 75 penari untuk menebalkan filosofi “Nenemo” sebagai visi masa depan Tubaba.

“Tentu saja penampilan kesenian dari generasi muda, bukan berarti melupakan kesenian yang telah lama tumbuh di masyarakat, akan kita saksikan pula gitar klasik Lampung, Kulintang, Dzikir Lampung, Ngediao atau Bebandung, Reog, Jaipong, dan Baleganjur. Sejumlah ekspresi seni tradisional yang juga menandakan multikulturalisme masyarakat Tubaba,” kata Semi, Kamis (29/8).

Lebih lanjut Semi menjelaskan, dalam Festival Tubaba kali ini, aktor Joind Bayuwinanda dari Jakarta akan menampilkan monolog dengan tema pendidikan, sedangkan grup musik Amigdala dari Bandung akan memainkan komposisi ciamik. Dua seniman ini sebagai representasi dari seniman berpengalaman untuk dijadikan semacam referensi kekaryaan para peserta didik program pelatihan kesenian Tubaba.

Selain penampilan dan pameran kesenian, pada gelaran kali ini Festival Tubaba mempunyai konten yang bisa dibilang istimewa, yakni launching “Kopi Tubaba”, disebut istimewa karena ternyata anggapan selama ini Tubaba tidak memiliki produk kopi yang bisa dinikmati keliru, berdasarkan hasil percobaan ternyata kopi yang banyak tumbuh di pekarangan rumah warga Tubaba memiliki rasa yang cukup nikmat. Besar harapan setelah launching ini warga Tubaba bisa memproduksi kopi dari pekarangan rumahnya sendiri.

Seniman yang terlibat berjumlah sekira 300 orang. Festival ini digelar di empat venue: Kota Uluan Nughik “Rumah Panggung”, Kota Uluan Nughik “Rumah Baduy” keduanya di Rawa Kebo (Panaragan Jaya), Patung Empat Marga (Panaragan), dan Sessat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai (Panaragan Jaya). Seluruh rangkaian acara berlangsung pada tanggal 29-31 Agustus 2019. (fei/rls/kyd)




  • Bagikan