Dari Tubaba, Wakil Ketua MPR RI Ungkap Kekhawatiran Bahasa Lampung Bisa Punah

  • Bagikan
Bupati Umar Ahmad (kiri) bersama Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani di Ulluan Nughik Tubaba. Foto ist

RADARLAMPUNG.CO.ID-Saat ini tinggal 550 bahasa dari 880 bahasa di Indonesia. Sayangnya ada beberapa bahasa 80 tahun ke depan diperkirakan bisa punah. Salah satunya adalah bahasa daerah Lampung. Kekhawatiran terkait bahasa Lampung berpotensi punah itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI, H.Ahmad Muzani, saat melakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Balai Adat Sesat Agung Komplek Islamic Center Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Senin (30/8) sore.

Dalam sosialisasi tersebut, Ahmad Muzani menyampaikan, empat pilar itu adalah empat penyangga dalam kehidupan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. “Lampung adalah salah satu contoh provinsi atau daerah yang menerima dengan tangan terbuka terhadap suku-suku lain. Suasana ini harus dihidupkan terus, karena sejatinya persatuan adalah kekuatan terbesar bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan negara,” ungkapnya.


Namun lanjut Muzani, dirinya pernah mendengar catatan ahli bahasa yang menyebutkan dalam 50 tahun ke depan, salah satu bahasa yang  terancam punah adalah bahasa Lampung. Hal ini karena bahasa Lampung sudah jarang digunakan terutama di kalangan milenial.

Baca Juga:   Update Covid-19 Lampung : PPKM Bandarlampung Level 3, 14 Daerah Level 2

“Padahal, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini adalah negara yang terbentuk dari berbagai macam suku bangsa, oleh karena itu sudah menjadi tugas kita semua agar budaya masing-masing daerah kita bisa terus berkembang dan terjaga,” katanya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Umar Ahmad menjelaskan. sebenarnya masyarakat Lampung khususnya masyarakat Tubaba, adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, bahkan sebelum Pancasila itu lahir.

“Masyarakat Lampung jauh sebelum Indonesia merdeka sudah mengenal Pancasila, yang mana dalam adat budaya Lampung memiliki kebiasaan dan nilai-nilai yang disebut Piil Pesenggiri, Nengah Nyappur, Nemui Nyimah, Bejuluk Beadek, dan Sakai Sambayan. “Jadi, kita sebenarnya sudah berpancasila dalam bahasa Indonesia jauh sebelum Pancasila lahir,”papar Umar.

Baca Juga:   Semester Satu 2021, Investasi Lampung Capai Rp8,79 Triliun

Tetapi, lanjut mantan Ketua DPRD Tubaba ini, tidak dapat menyangkal di era globalisasi saat ini banyak sekali masyarakat yang lupa akan asal mula peradaban hingga terbentuknya negara ini. “Karenanya, saat ini Tubaba bukan lagi hanya sekadar singkatan, tetapi merupakan masa depan Tulangbawang Barat, sebagai nilai yang ingin dituju masyarakat, dan orang-orang Tubaba adalah orang yang memegang nilai Nenemo (Nemen, Nedes, Nerimo) Sederhana, Setara , dan Lestari diharapkan, melalui sosialisasi yang dilaksanakan pada hari ini dapat meningkatkan semangat kebangsaan dan nasionalisme dalam diri masing-masing masyarakat,” papar Umar. (fei/rnn/wdi)




  • Bagikan