Datangi DKL Lampung, FPI Hentikan Pemutaran Film Kucumbu Tubuh Indahku

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) menghentikan pemutaran film Kucumbu Tubuh Indahku, yang berlangsung di gedung Dewan Kesenian Lampung (DKL) Kompleks PKOR Wayhalim, Selasa (12/11). Langkah tersebut dilakukan dengan alasan, film tersebut mengandung unsur LGBT dan dikhawatirkan merusak moral generasi muda.

Ketua Klub Nonton Lampung Nada Bonang mengatakan, pemutaran film tersebut dihentikan paksa. ”Ya benar. Dihentikan secara paksa saat pemutaran sesi pertama tadi,” kata Nada Bonang.

Ia menuturkan, PFI menilai film karya Garin Nugroho tersebut mempromosikan isu LGBT. Salah satunya terlihat dari judul. ”Padahal jika ditonton, tidak mengarah ke sana (isu LGBT, Red). Tapi ya, mungkin FPI punya pandangan lain. Tapi kami tetap mengapresiasi film Indonesia ini,” sebut dia.

Baca Juga:   Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Penganiayaan Perawat, Dinkes Apresiasi Polresta

Terpisah, pengurus DKL Hermansyah mengatakan, pertunjukan film bagian dari seni. Jadi, dalam pemutaran film ini, pihaknya mengedepankan seni. Bukan persoalan etika atau norma yang dilarang agama.

“Berkaitan dengan film ini, hal-hal yang wajar saja di dalam pertunjukan dalam film. Lantas kalau FPI melarang dan sebagainya, sesungguhnya berharap FPI jangan langsung mengambil sikap,” kata Herma.

Pihaknya juga meminta FPI mempelajari terlebih dahulu film tersebut. “Kalau mereka sudah mempelajari film ini, baru bisa mengambil sikap. Tetapi kalau belum, bagaimana tahu,” tegasnya.

Film Kucumbu Tubuh Indahku ini bercerita tentang perjalanan Juno (Muhammad Khan) dari kecil sampai dewasa. Juno kecil lahir di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang terkenal dengan penari Lengger Lanang atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan.

Baca Juga:   Polda Lampung Lakukan Vaksinasi Massal

Kemampuan alami tersebut didapat dari lingkungan desa dan keluarganya yang sering meleburkan tubuh maskulin dan feminin. Kekerasan akibat keadaan politik membuatnya hidup sendiri, menjadikan ayah dan ibu dari dirinya sendiri.

Juno sering melihat kekerasan di lingkungannya. Kekerasan pertama yang dia lihat ketika Juno pertama kali bergabung dengan grup tari Lengger di desanya. Kekerasan itu pula lah yang menjadikannya harus berpindah dari satu desa ke desa lain.

Perpindahan yang terus menerus membuatnya bertemu banyak sosok manusia, dari petinju hingga maestro penari Reog. Tapi bukannya Juno tidak pernah mengalami kekerasan. Sepanjang perjalanan, Juno sering mendapat kekerasan sosial sampai kekerasan politik. Sebuah perjalanan tubuh yang membawanya menemukan keindahan tubuhnya. (mel/ais)

 




  • Bagikan