Densus Tangkap 16 Tersangka Teroris, BNPT: NII Induk Terorisme di Indonesia, Wajib Diwaspdai


Petugas gabungan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali melakukan penggeledahan kediaman terduga teroris di Jl. Mahoni 1, RT 07, Kel. Wayhalim Permai, Kec. Wayhalim, Bandarlampung, pada Rabu (3/11). Tampak sejumlah petugas tengah mengamankan puluhan kotak amal di rumah setempat. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menangkap 16 tersangka teroris yang terafiliasi dengan Negara Islam Indonesia (NII), Jumat, (25/3) di Sumatera Barat.

Penangkapan dalam jumlah besar tersebut menunjukkan betapa gerakan radikalisme dan  terorisme di beberapa daerah kini semakin massif.





Diketahui, motif para tersangka tersebut ingin mengganti ideologi negara dan menggulingkan pemerintahan yang sah.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pencegahan BNPT RI Brigjen Ahmad Nurwakhid saat dihubungi, Selasa (29/3) menjelaskan bahwa NII merupakan salah satu gerakan politik yang patut diwaspadai karena memiliki ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan konsensus nasional. Bahkan telah memiliki struktur pemerintahan yang bergerak di bawah tanah.

Gerakan ini selain berpotensi melakukan tindakan kekerasan dan teror untuk mencapai cita-citanya mendirikan negara berdasarkan syariat agama, juga menjadi ancaman bagi kehidupan yang harmoni di negeri ini.

“NII merupakan organisasi dan gerakan politik pertama di Indonesia yang melakukan radikalisasi gerakan politik yang mengatasnamakan agama yang sangat membahayakan kedaulatan negara. Ideologi NII merupakan induk ideologi yang menjiwai gerakan-gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia” tegasnya.

Lebih lanjut, Brigjen Ahmad Nurwakhid menerangkan, terorisme di Indonesia memiliki akar sejarah dan ideologi yang bisa dilacak dari gerakan Kartosoewiryo dengan Darul Islamnya (DI/TII) pada era-1950-an.

Gerakan ini merupakan salah satu gerakan pemberontakan yang cukup menyita perhatian pemerintah kala itu. Karena selain anggotanya yang cukup banyak, juga melakukan, i’dad atau pelatihan serta memiliki pesantren sebagai sarana untuk menanamkan doktrin yang anti Pancasila.

Bahkan menurut salah satu putra pendiri DI/TII, Sarjono Kartoesuwiryo saat menyatakan ikrar setia bagi Pancasila tahun 2019 di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM, anggota NII saat ini menurut data resmi masih ada sekitar dua juta, tidak termasuk yang belum terdata.