Di Sidang, Mustafa Sebut Masih Ditagih Utang oleh Para Kerabatnya

  • Bagikan
Sebanyak 7 saksi hadir pada persidangan lanjutan suap fee proyek di Dinas Bina Marga Lampung Tengah (Lamteng) Atas terdakwa Mustafa di PN Tipikor Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung, Kamis (25/3). Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Tujuh saksi hadir di persidangan lanjutan suap fee proyek di Dinas Bina Marga Lampung Tengah (Lamteng). Atas terdakwa Mustafa di PN Tipikor Kelas IA Tanjungkarang, Bandarlampung, Kamis (25/3).

Para saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu dari unsur mantan anggota DPRD Lamteng dan juga keluarga terdakwa Mantan Bupati Lamteng Mustafa.


Pada saksi yakni Rusliyanto, Ria Agusria yang merupakan mantan anggota dewan Lamteng. Yang hadir langsung ke PN Tipikor Kelas IA Tanjungkarang. Untuk Zainudin, Raden Sugiri, Achmad Junaidi Sunardi, Natalis Sinaga merupakan mantan dewan hadir melalui sidang online di lapas masing-masing. Lalu ada lagi dari keluar terdakwa Mustafa yakni, Safudin ymerupakan kakak dari Mustafa.

Dalam sidang tersebut, Safudin sempat mundur dari saksi. Namun kemudian hakim tetap meminta keterangan Safudin tetapi tidak dibawah sumpah.

Dalam sidang Safudin membeberkan dirinya pernah diminta pinjam uang oleh Mustafa sebesar Rp2,1 miliar. Uang itu digunakan untuk diberikan ke parpol guna keperluan pencalonan Mustafa sebagai Gubernur Lampung.

Baca Juga:   Azis Syamsuddin Segera Disidang di PN Jakarta Pusat

Menurut Safudin, pada saat itu ditahun 2017 terdakwa Mustafa meminjam uang sebesar Rp2 miliar kepada dirinya dan saudara-saudara Mustafa. “Ya dia (Mustafa) pernah pinjam uang. Untuk digunakan pencalonan menjadi Gubernur Lampung,” katanya, Kamis (25/3).

Mendapati penjelasan itu, JPU KPK Taufiq Ibnugroho pun membacakan BAP milik Safudin, ketika pada saat itu dirinya diperiksa oleh penyidik KPK. “Ini di BAP anda, itu terjadi pada Juni 2017. Waktu itu saya bertemu dengan Mustafa di pengajian. Tepatnya dirumah dinas. Waktu itu saya dipanggil minta tolong mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Kemudian terkumpul Rp2 miliar,” jelas Taufiq, sambil membacakan BAP milik Safudin.

Lanjut Taufiq, setelah terkumpul uang itu pun diserahkan ke Taufik Rahman –mantan Kadis Bina Marga Lamteng. Dimana dibutuhkan untuk pencalonan Mustafa. Dan nanti akan diganti dengan pekerjaan proyek. “Apakah pengumpulan ini ditindaklanjuti,” tanya JPU KPK Taufiq.

Mendapati pertanyaan itu, Safudin pun menjelaskan bahwa uang itu dikumpulkannya dari saudara-saudaranya. Dan diserahkan ke Rusmaladi di PKOR Wayhalim. Dari jumlah Rp2 miliar itu, lanjut Safudin sebanyak Rp500 juta berasal dari dirinya. Sedangkan sisanya dari para kerabat Mustafa. Besarannya bervariasi. Mulai dari Rp200 juta hingga Rp500 juta.

Baca Juga:   Azis Syamsuddin Segera Disidang di PN Jakarta Pusat

Usai melakukan penyerahan itu, dirinya pun mendapatkan hadiah plotting proyek di Rumbia. Yang dimana nilai pagunya sebesar Rp1,5 miliar. “Dan pada tahun 2018 Mustafa kembali meminta uang Rp100 dan saya kasih lagi ke Rusmaladi. “Jadi total dari tahun 2017 hingga 2018 Rp2,1 miliar,” jelasnya.

Sementara itu, Mustafa pun memberikan keterangan bahwa Saifudin itu merupakan keluarga terdekat. Dan sering bertemu dengan dirinya. “Jadi benar memang Partai PKB itu meminta uang untuk mahar rekomendasi. Waktu itu saya kelabakan. Kebetulan saat itu bersamaan Partai Nasdem dan PKS juga memberikan rekomendasi. Sehingga saya butuh banget (uangnya),” katanya.

Sekali lagi Mustafa pun menegaskan apabila uang Rp2 miliar itu bukan dari fee. Melainkan dari meminjam kepada saudara-saudaranya. “Saudara saya pun masih menagih. Sampai saya di tahan (Lapas Sukamiskin) pun didatangi. Ya tapi enggak apa-apa, soalnya saya juga pinjam,” ungkapnya. (ang/wdi)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan