Diblokade, Begini Penampakan Jembatan di Lamteng Pascaambrol

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Setelah dilalui tujuh truk bermuatan singkong yang konvoi, Jembatan Kali Wayit, Kampung Simpangagung, menuju Kampung Donoarum, Kecamatan Seputihagung, Lampung Tengah, ambrol sekitar pukul 04.00 WIB pada (1/5) jembatan sepanjang 10 meter yang sudah tua ini ambrol hingga kedalaman sekitar 2,5 meter.

Kondisi jembatan yang ambrol. Foto Syaiful Mahrum/Radar Lampung

Pantauan radarlampung.co.id di lokasi jembatan, Rabu (2/5), warga sudah memblokade jembatan dengan kayu. Sedangkan kondisi jembatan masih menganga dan hanya diberi kayu untuk melintas darurat.

Camat Seputihagung Sariman, kondisi jembatan sudah tua dan belum pernah diperbaiki. “Memang sudah tua. Sudah lama tak diperbaiki. Apalagi dampak banjir beberapa waktu lalu yang merendam jembatan membuat tanah di pinggir jembatan tergerus,” katanya via telepon, Rabu (2/5).

Baca Juga:   Ini Instruksi Walikota Terkait Bandarlampung Masuk dalam Kategori PPKM Level 4
Jembatan ambrol dan patah menjadi dua. Foto Syaiful Mahrum/Radar Lampung

Sariman melanjutkan, sebelum jembatan ambrol dilalui tujuh truk bermuatan singkong. “Informasi yang saya dapat, pukul 04.00 WIB ada tujuh truk muatan singkong melintas secara konvoi dari Kampung Donoarum. Setelah itu warga sekitar mendengar suara jembatan ambrol,” ujarnya.

Sementara ini, kata Sariman, jembatan tidak bisa dilalui kendaraan. “Kendaraan nggak bisa lewat. Dari dua arah dipasang portal. Sementara dibuat jembatan dari batang pohon kelapa ditimbun tanah melalui gotong-royong warga,” ungkapnya.

Terkait abrolnya jembatan ini, kata Sariman, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Plt. Bupati Lamteng Loekman Djoyosoemarto dan Dinas Bina Marga. “Sudah laporan dengan Pak Bupati dan pihak Dinas Bina Marga. Secepatnya akan ditindaklanjuti perbaikan jembatan menggunakan alokasi dana tanggap darurat,” katanya.

Baca Juga:   Warga Raman Utara Temukan Avanza Tak Bertuan Terperosok ke Saluran Irigasi

Terkait jalur alternatif, kata Sariman, tidak menjadi masalah. “Nggak masalah. Kalau mau ke Kampung Donoarum bisa lewat Kampung Endangrejo melalui tanggul irigasi. Kalau mau ke Kampung Simpangagung bisa melalui tanggul di dekat lapangan,” ujarnya.

Sedangkan Budiono (40), warga Kampung Simpangagung, mengaku terkejut ketika mendengar suara jembatan ambrol. “Saya kaget. Kirain ada apa. Ternyata jembatan ambrol. Kami berharap pemerintah daerah langsung merespons karena jembatan ini jalan utama yang dilalui banyak warga,” ucapnya. (sya/gus)




  • Bagikan