Dilaporkan Menganiaya, Hasriadi Mat Akin Merasa Difitnah

  • Bagikan
Hasriadi Mat Akin saat wawancara di ruang kerjanya. Foto Aprohan Saputra/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Rektor Universitas Lampung (Unila) Hasriadi Mat Akin (61) tersandung kasus dugaan penganiayaan terhadap Rodia (56), warga Jalan Raden Gunawan, Gang Melati II, Kelurahan Rajabasa Pemuka, Kota Bandarlampung.

Dalam pengakuan Hasriadi, dirinya merasa di fitnah, karena pengakuan Rodia tidak sesuai fakta yang terjadi. Bahkan, dia meresa geram telah dituduh menganiaya Rodia, seperti keterangan yang beredar. 

“Demi Allah, saya engga ninju! Buat apa saya salat selama ini kalau saya ninju orang,” tegasnya kepada Radarlampung.co.id saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (28/2).

Hasriadi mengungkapkan, saat kejadian Jumat (8/2) pekan lalu tersebut, dirinya sempat mendorong Rodia. Itu lantaran Rodia mencoba menyerang istrinya yang saat itu terlebih dahulu cekcok mulut dengan Rodia. 

“Saya datang ke lokasi itu, karena saya mendengar istri saya ditunjuk-tunjuk, diteriaki maling dan pada saat saya sampai di lokasi kami diteriaki maling tanah. Akhirnya saya emosi, dorong, yang benar kamu. Demi Allah saya enggak ninju,” terangnya. 

Percekcokan terjadi, katanya, disebabkan Rodia telah menuduh dirinya maling tanah miliknya. Padahal, menurut Hasriadi, dirinya memiliki sertifikat resmi atas kepemilikan tanah dengan ukuran 22×7 meter. 

Tidak ada hujan dan angin tiba-tiba Rodia membangun tembok, sehingga ukuran tanah menjadi 20×7 meter. Hasriadi akhirnya memutuskan untuk membongkar dinding pembatas itu karena merasa justru Rodia telah menyerobot tanah miliknya. 

Menurutnya, seluruh pengakuan Rodia menyesatkan, yang telah menuduh dirinya menganiani dengan keji, memukul, menendang dan sebagainya. “Justru saya yang mau diserang, kok malah dibalik, seakan-akan saya yang meninju dia. Mana visumnya,” ucapnya. 

Dilain sisi, Sukarmin, pengacara Hasriadi menyatakan kliennya tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap Rodia. “Pada prinsifnya, itu tidak ada, itu bohong semua itu, dipukuli segala macam itu engga ada,” ujarnya saat dihubungi. 

Menurutnya, pihaknya tengah mengkaji seluruh laporan dan berita-berita yang memuat tentang pengakuan pihak pelapor, sebagai alat bukti. “Kita tunggu dulu laporan ini, bila nanti tidak ada unsur penganiayaan dan pemukulan, tentu klien saya punya hak dong. Apakah klien saya lapor balik terkait pencemaran nama baik dan sebagainya,” tandasnya. (apr/kyd)


Baca Juga:   Perkara Korupsi DAK Tuba, Saksi Sebut Diperintah Pungut 12,5 Persen dari Sekolah


  • Bagikan