Dilema Produsen Tahu dan Tempe, Tetap Produksi Meski Minim Keuntungan

  • Bagikan
Mujiono tetap berupaya memenuhi pesanan konsumen dengan tetap memproduksi tempe. FOTO RURI/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Melambungnya harga kedelai membuat beberapa pengusaha tahu dan tempe di Gunung Sulah, Bandarlampung, berfikir keras. Ya, mereka berupaya tetap bisa berproduksi.

Ratno (31) salah satu pengusaha tahu di Bandarlampung mengatakan, kedelai yang biasanya ia beli Rp7.000 per kilogramnya, saat ini telah mencapai harga Rp9.500 per kgnya.

“Dari pandemi memang sudah naik, tapi tidak tinggi. Pernah turun juga, tapi tidak banyak. Harganya tidak stabil, naik turun,” kata Ratno, Selasa (5/1).

Dengan harga setinggi itu, Ratno masih berupaya tetap memproduksi tahu goreng yang menjadi sumber utama penghasilannya. Ia menyiasatinya dengan mengubah ukuran tahunya menjadi agak lebih kecil.

“Kalau produksi tetap setiap hari. Tapi ya ukurannya agak ditipisin dan potongannya agak dikecilin. Karena kalau dinaikkan harganya, kasihan juga,” ujarnya.

Baca Juga:   Lebaran Seru Tanpa Mudik Bersama bank bjb, Tingkatkan Kewaspadaan dan Jaga Prokes

Ia mengaku, menjual tahu goreng dengan harga Rp4.500 per 10 biji. Harganya pun tetap tidak dinaikannya, meskipun keuntungannya tidak seberapa, yang penting ia tetap memproduksi tahu.

Sementara, Mujiono (60) pengusaha tempe menuturkan, setiap hari ia memperoduksi 90 Kg kedelai yang diolah menjadi tempe dengan berbagai ukuran. Meskipun harga kedelai naik, ia tidak mengurangi jumlah produksi kedelainya.

Kendati harga kedelai melambung tinggi, usaha rumahan miliknya itu tetap berproduksi. Karena jika tidak berproduksi, akan berdampak pada kebutuhan konsumennya.

“Ya kita siasatinya dengan ukuran yang diperkecil. Kita masih tetap produksi, walaupun keuntungannya tidak besar,” katanya.

Mujiono berjualan tempe sejak tahun 1980an hingga sekarang. Artinya, sudah banyak pelanggan yang bergantung padanya.

Baca Juga:   Industri Perhotelan Tak Mau Patok Laba: Bisa Bertahan pun Sudah Hebat

“Jika kita tidak produksi, kasihan konsumennya. Karena sudah banyak langganannya. Jadi tetap kita buat tempe,” pungkasnya.

Ia pun berharap, harga kedelai bisa turun seperti biasa. Karena itu satu-satunya sumber penghasilan keluarganya. (rur/sur)





  • Bagikan