DKPTPH Lampung : Produksi Jagung Meningkat

  • Bagikan
Kusnardi. Foto Prima Imansyah P/radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID-Dilema peternak ayam mengenai harga pakan yang naik, sementara jumlah permintaan yang turun berimbas pada harga jual telur di pasaran. Mengenai persoalan pakan ayam yang ternyata di dominasi oleh jagung, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, Kusnardi angkat bicara. Dia menekankan tidak ada penurunan produksi jagung di Lampung. Kusnardi mengatakan jumlah produksi jagung cenderung meningkat. “Sebenarnya produksi jagung meningkat untuk tahun ini,” ungkap Kusnardi.

Dalam catatannya saja, produksi jagung periode bulan Januari hingga Juli 2020 sebesar 1.889.508 ton. Pada tahun 2021 produksi jagung di bulan yang sama sebesar 1.996.051 ton. Jumlah tersebut didapat dari capaian luas panen jagung periode yang sama pada bulan Januari sampai dengan Juli 2020 seluas 297.711 hektar dan tahun 2021 diprediksi seluas 315.290 hektar.


Kusnardi menilai, persoalan harga telur ayam yang jatuh perlu di dalami lebih lanjut. Mengingat, jagung yang menjadi salah satu bahan baku pakan ternak dengan bobot 50% tersebut tidak mengalami peningkatan harga yang mencolok.

Baca Juga:   BPKP Sebut Realisasi Pendapatan Sektor Hotel dan Restoran Perlu Ditingkatkan

“Harga jagung sendiri kalau dibandingkan dengan harga pakan tidak terlalu mencolok lah. Tapi memang jagung itu 50% kandungan pakan ayam, tapi kalau dibandingkan yang lain masih tidak seberapa harganya. Karena kalau dari sisi harga jagung dan pakan relatif kecil presentasenya,” tambahnya.

Produksi jagung di Lampung juga disebut Kusnardi, selalu meningkat. Tahun lalu produksi jagung naik 5%. Dari total produksi kita, itu 90% lebih digunakan untuk bahan baku pakan ternak.

“Dari produksi yang ada mencukupi untuk pakan ternak di Lampung, tapi kan Lampung bukan daerah tertutup semua terbuka, kita mengalir juga bahkan dari Jawa pakai jagung dari kita,” tambahnya.

Kenaikan harga jagung juga, kata Kusnardi terjadi karena harga jagung dunia naik. “Jadi memang banyak gagal panen dan masalah Covid-19 di dunia. Angkutan laut juga naik hampir 100% untuk angkut barang, sehingga harganya naik,” tambahnya. (rma/wdi)




  • Bagikan