dr Nana : Alokasi Insentif Non Nakes Memberikan Kontribusi Penanganan Covid-19

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Direktur RSUD dr.Bob Bazar SKM Kabupaten Lampung Selatan, dr Media Apriliana MKM, menegaskan tidak ada yang salah dengan pemberian insentif bagi pekerja rumah sakit (RS) non tenaga kesehatan (Nakes) dalam rangka mendukung penanganan Covid-19.

Dalam keterangan tertulisnya, mantan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes ini mengungkapkan, pemberian pendapatan tambahan untuk Cleaning Service, Laundry, Porter dan Pengendara Ambulance, tidak hanya dilakukan di RSUD Bob Bazar Kalianda, namun hampir di semua rumah sakit rujukan Covid-19 di seluruh Indonesia.

“Boleh dicek kalau bukan kami saja yang memberikan insentif non nakes pendukung penanganan Covid-19. Saya kira masalahnya hanya di redaksional saja. Mau bagaimana juga sumbernya keuangannya sama, yakni APBD,” ungkapnya, Rabu (1/7).

Terkait dengan SK Bupati yang dianggap ‘Bodonk’, Nana menanggapinya dengan santai. Menurut dia, SK tersebut merupakan payung hukum atas pemberian insentif kepada non nakes yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Lamsel.

Baca Juga:   Pemkab Lambar Alokasikan Rp13,8 Miliar untuk Insentif Nakes

“Ini apresiasi dari pemerintah daerah, yang menjadi atensi khusus pak bupati pak Nanang Ermanto bagi rekan-rekan pekerja non nakes, tetapi memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pelayanan penanggulangan Covid-19,” ucapnya.

Nana, sapaan akrabnya mencontohkan, kinerja Cleaning Service (CS) di RSUD Bob Bazar. kinerja CS memang harus diapresiasi dengan memberikan insentif. Sebab, pekerjaannya yang berat dan beresiko tinggi seperti membersihkan ruangan isolasi dengan menyapu, mengepel lantai dan mengumpulkan sampah setiap hari.

“Kalau boleh jujur, diluar keahlian, beban kerja cleaning service lebih berat dibandingkan dengan nakes. Bagaimana mereka setiap hari berjibaku dengan kebersihan, salah satunya ruangan isolasi. Bicara resiko, sangat rentan terpapar. Kalau bukan CS, saya tanya coba siapa yang mau membersihkan ruangan isolasi? Jika misalnya, maaf, ada CS terpapar Covid-19 kemudian meninggal, apakah ada jaminan santunan dari pemerintah? Disini lah peran pemerintah daerah atas dasar kemanusiaan dan kebersamaan tanggungjawab,” terangnya.

Baca Juga:   Gubernur serta Kada di Lampung Bakal Surati Presiden Desak Tambah Dosis Vaksin dan Obat Covid-19

Sedangkan untuk pemberian insentif Manajemen on Duty, sudah lumrah dalam pengelolaan rumah sakit sebagai upaya peningkatan layanan di luar jam dinas. Dituturkan Nana, jam dinas umumnya dari pukul 08.00 – 16.00 wib. Sedangkan operasional rumah sakit 1×24 jam.

“Jadi, mewakili manajemen untuk mengontrol kegiatan seluruh karyawan dan klien di rumah sakit, pada saat di luar jam dinas reguler,” ujarnya.

Mantan KUPT Puskesmas Ketapang ini juga menjelaskan, terkait pembangunan Selasar atau lebih dikenal dengan sebutan Koridor rumah sakit yang memang faktanya tidak menjadi akses pasien menuju ruang isolasi.

“Pasien memang tidak diperbolehkan mengakses Selasar itu, guna meminimalisir penularan. Tapi Selasar kan dipergunakan oleh karyawan RS, baik itu tenaga kesehatan, maupun tenaga lainnya seperti CS, laundry, porter menuju ruangan isolasi sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Ya artinya vital, sangat diperlukan dalam rangka pelayanan,” pungkasnya. (rls/yud)




  • Bagikan