Dua Tahun, Puluhan Ribu Burung Diamankan

  • Bagikan
Petugas BKSDA Lampung saat menunjukkan barang bukti saat ungkap kasus penyelundupan satwa di lokasi Pusat Penyelamat Satwa Lampung, Lampung, Selasa (3/3). BKSDA Lampung bersama Petugas Flight Protecting Indonesia's Birds berhasil menangkap satu orang terduga pelaku penyelundupan burung beserta 87 ekor burung diantaranya 29 jenis yang dilindungi. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Sebanyak 67 ribu burung diselundupkan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Namun, selama wabah Covid-19, pola penyelundupan burung liar sumatera berubah.

Marison Guciano, Direktur Eksekutif FLIGHT: Protecting Indonesia’s Birds organisasi perlindungan burung di Indonesia mengatakan, saat ini penyelundupan burung liar meningkat melalui jalur udara dengan pesawat terbang.

“Selama wabah Covid 19 penyelundupan burung sumatera lewat jalur darat menurun drastis karena semakin ketatnya pengawasan melalui razia rutin covid 19 di tiap perbatasan, namun gantinya  meningkat melalui jalur udara,” ungkapnya, Sabtu (30/5).

Marison menuturkan, dalam dua tahun terakhir 2018-2019, terdapat 80 kasus upaya penyelundupan dengan total 67 ribu burung liar Sumatera yang berhasil digagalkan petugas.

Baca Juga:   Layani Penerbangan Pengecualian, Ini Penjelasan Executive GM Bandara Raden Inten II

“Dari 80 kasus upaya penyelundupan selama 2018-2019, sebagian besar digagalkan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Selain itu, petugas berhasil menggagalkan upaya penyelundupan burung di Riau, Jambi, Bangka, Lampung Utara, Lampung Selatan, dan Pelabuhan Merak, Banten,” katanya.

Adapun Jenis burung yang sering diselundupkan, kata Marison, diantaranya prenjak (Orthotomus ruficeps), Pleci (Zosterops simplex), Cucak ranting (Blue-winged Leafbird), poksay hitam (Garrulax chinensis), Poksay Sumatera (Garrulax bicolor), burung madu (Leptocoma brasiliana), dan Cucak ijo (Greater green leafbird).

Menurutnya, upaya penyitaan dan penegakan hukum kepada penyelundup yang dilakukan selama dua tahun terakhir, dinilai telah mengurangi ancaman terhadap populasi mereka.

“Ini tentu berita baik dan menunjukkan kinerja positif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Karantina Pertanian dan Kepolisian untuk menyelamatkan burung liar kita dari kepunahan,” ujarnya.

Baca Juga:   Rampok Truk Bermuatan Kopi, Tiga dari Empat Tersangka Ditembak

Marison mengungkapkan bahwa  burung-burung liar Sumatera sedang mengalami krisis populasi yang didorong oleh perdagangan satwa liar.

“Jutaan burung dicuri dari habitat alaminya di Sumatera dan diselundupkan untuk memenuhi permintaan besar dari pasar-pasar burung, terutama yang berada di pulau Jawa,” katanya.

Dia menjelaskan, ada beberapa propinsi yang menjadi titik transit dari rute penyelundupan burung liar dari Sumatera ke Jawa, diantaranya Lampung, Jambi, Sumatera Selatan dan Medan.

“Ada ratusan pedagang di Sumatera yang menjadi bagian dari mafia penyelundupan burung liar Sumatera ke Jawa. Mereka bekerja secara senyap, sangat rapi dan sistematis,” tuturnya.

Menurut Marison, burung burung liar Sumatera diselundupkan ke Jawa dominan melalui jalur darat dengan pintu keluar melalui pelabuhan Bakauheni, Lampung. Sementara itu jalur udara juga digunakan penyelundup dengan memanfaatkan celah dari lemahnya pengawasan di beberapa bandara di Sumatera.

Baca Juga:   Masuk Bandarlampung, Ratusan Kendaraan Putar Balik

Marison menambahkan, masifnya perburuan dan penyelundupan burung liar dari Sumatera ke Jawa telah mengakibatkan menurunnya populasi mereka di habitat alaminya.

“Beberapa jenis burung bahkan sudah sangat sulit dijumpai di habitat alaminya. Ini tentu sangat mengkhawatirkan dan berdampak buruk pada ekosistem karena burung burung ini berfungsi membantu regenerasi tanaman dan menyeimbangkan mata rantai makanan,” tandasnya.(rls/gar/yud).





  • Bagikan