Dua Wanita Pemberani Ini Biasa Mandikan Mayat Membusuk hingga Korban Lakalantas

  • Bagikan

Berbicara soal jenazah, umumnya orang akan takut dan ngeri. Namun tidak bagi dua perempuan pemberani ini. Sebagai petugas di Instalasi Forensik dan Kamar Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung, dua wanita ini sudah memandikan puluhan hingga ratusan jenazah dengan berbagai kondisi. Seperti apa kisahnya?

Laporan Hendra Irawan/radarlampung.co.id

DULU disebut Ruang Kamboja. Maklum, di ruangan ini adalah tempat disemayamkannya mayat yang masuk ke RSUDAM. Baik itu tanpa identitas (anonym) maupun beridentitas. Mulai dari korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas), tertabrak kereta, pembunuhan ataupun hal lainnya. Baik dalam kondisi utuh maupun terluka atau membusuk.

Kamis (12/4) siang, radarlampung.co.id, mendatangi eks ruangan Kamboja yang kini berganti nama menjadi Instalasi Forensik dan Kamar Jenazah RSUDAM. Terlihat, dua wanita yang sudah berumur dan berjilbab tampak ramah menyapa. Keduanya duduk sambil berbincang satu sama lain. Di belakangnya, terdapat tulisan ‘Selain Petugas Forensik Dilarang Masuk’.

“Apa kabar silakan. Sudah ngopi belum?” buka Rosida (49) yang sudah 5 tahun bertugas memandikan jenazah kepada radarlampung.co.id.

Dalam hati wartawan ini, ngopi di ruang depan kamar mayat tentu hal yang tak biasa. Tetapi, ternyata tidak menurut Rosida. Dia bersama Nur Aetin (46), keduanya sudah terbiasa dan tak takut bekerja di seputaran Ruang Jenazah tersebut.

Instalasi Forensik dan Kamar Jenazah/Foto IST
Instalasi Forensik dan Kamar Jenazah RSUDAM/Foto IST

“Nggak apa-apa biasa saja, kok disini,” kata Nur Aetin yang sudah 12 tahun bertugas memandikan jenazah itu. Tampak, baik Rosida maupun Nur tak canggung lagi baik makan makanan ringan seperti gorengan maupun minum kopi atau teh di sekitar kamar mayat.

Baca Juga:   Ombak 2 Meter Terjang Empat Rumah

Nur Aetin tercatat sebagai tenaga kontrak di RSUDAM. Sedangkan Rosida adalah Tenaga Kerja Sukarela (TKS). Keduanya mengaku menjalani pekerjaan yang bagi sebagian orang adalah horror, sebagai sebuah sarana beribadah.

“Apapun pekerjaan kita, asal diniatkan ibadah Insya Allah nggak ada masalah. Kita enjoy saja,” kata Nur.

Nur bercerita, jam kerjanya sebagai petugas memandikan mayat bisa dibilang adalah selalu siaga. Meski jam kerjanya, sambung dia, adalah dengan system shif. Yakni berangkat pagi dari jam 07.00 – 03.00 WIB. Lalu, bergantian dengan Rosida, petugas selanjutnya secara bergantian.

“Kami selalu siaga. Kalau ada yang darurat mayat harus dimandikan, ya standby. Siap saja kalau dipanggil kantor. Walau pun malam kita akan datang. Kami khusus memandikan jenazah perempuan. Untuk yang memandikan jenazah laki-laki ada petugasnya sendiri,” kata Nur.

Menurut Rosidah yang tinggal di kecamatan Penengahan, Bandarlampung ini, dia berkerja sebagai petugas pemulasaran jenazah dari tahun 2006. Ibu dari dua orang anak ini berkisah, penah ada panggilan dari kantor untuk datang meski hujan deras.

“Suatu ketika tengah malam dan hujan ada panggilan dari kantor untuk memandikan jenazah. Ya saya harus datang. Dari tahun 2006 sudah banyak yang saya mandikan mungkin sudah puluhan. Saya lupa nggak hitung. Sampai saat ini saya enjoy saja dengan pekerjaan saya,” ucapnya.

Baca Juga:   Delapan Reklame Ditempel Stiker Tak Bayar Pajak dan Terancam Ditebang

Menurutnya, pernah dirinya memandikan mayat yang membusuk. Salah satunya mayat perempuan yang dulu meninggal di Gudang Tripanca, Bandarlampung. “Walaupun sudah busuk, ya sebisanya dimandikan,” terangnya.

Bagi Rosidah, keluarganya tak masalah dia berprofesi yang tak lazim tersebut. Bahkan, kata dia, keluarganya sangat mendukung pekerjaannya saat ini.

“Keluarga sangat mendukung pekerjaan saya. Suami maupun kedua anak saya juga mensupport. Di kantor, juga semua teman kerja sudah saya anggap seperti keluarga,” ujarnya.

Sementara, Nur Aetin warga Pasir Gintung, Bandarlampung ibu dari tiga orang anak ini juga mengaku tak masalah dengan pekerjaannya. Menurutnya banyak suka dukanya.

“Pada waktu itu pernah anak saya yang masih kecil dan badannya panas. Tiba-tiba ada  panggilan dari kantor. Maka saya tinggalkan anak saya dan mendahulukan panggilan dari kantor karena saya merasa bertanggung jawab dengan pekerjaan saya memandikan jenazah. Untuk sukanya, saya bisa berkumpul bersama dengan teman-teman yang sudah saya anggap keluarga kedua buat saya,” jelasnya.

Terkait jumlah jenazah yang sudah dimandikan, Nur juga mengaku tak ingat persis. Menurutnya, dalam setahun bisa berjumlah puluhan. “Soal berapa mayat yang sudah saya mandikan, saya tidak tau persis berapa. Mungkin puluhan atau ratusan jenazah sampai sekarang lupa,” terangnya. (bersambung/gus)




  • Bagikan