Duh, Lampung Masuk Wilayah Temuan Upal Tertinggi

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, berkomitmen melindungi masyarakat terhindar mendapatkan uang Rupiah palsu dan mencegah masyarakat tidak terlibat dalam tindak pidana terhadap Rupiah.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan memberikan pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Terhadap Rupiah, berlangsung di Hotel Horison Lampung, Selasa (8/5).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Budiharto Setyawan mengatakan, tujuan adanya pelatihan Pencegahan dan Penangan Tindak Pidana Terhadap Rupiah adalah mempersempit ruang gerak pelaku tindak pidana Rupiah dan keseragaman acuan dalam penyusunan dakwaan.

Pelatihan serupa selain di Lampung juga diselenggarakan di lima wilayah lainnya yaitu, Semarang, Mataram, Pontianak, Kendari dan Bandung.

“Pemilihan enam wilayah didasarkan pada temuan uang rupiah palsu yang relatif tinggi. Terdapat pula ketidaksamaan acuan landasan hukum, perkembangan teknik pemalsuan dan jaringan uang palsu. Peserta Pelatihan dari Polri terdiri dari kanitreskrim dan penyidik sedangkan dari Kejari masing-masing dua orang Jaksa Penutut Umum,”jelasnya Budiharto.

Data yang dihimpun dari kepolisian penemuan uang palsu atau uang diragukan keasliannya ada 257 lembar ditemukan di Provinsi Lampung dari tahun 2016-2018. Penemuan terbanyak ditemukan di daerah Tulang Bawang 156 lembar pecahan 50.000, selanjutnya Kejari Lampung pada 2017 temukan 26 lembar pecahan 100.000.

Baca Juga:   Vaksinasi Gotong Royong Charoen Pokphand Group Lampung

Selanjutnya data dari Unit Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia KpW Lampung selama 2017 ditemukan uang palsu total 4.299 lembar, terdiri dari 1.650 lembar pecahan 100.000, 2.561 lembar pecahan 50.000 dan pecahan lain ada 85 lembar.

Kepala Group Kebijakan Pengedaran Uang BI Pusat Decymus mengatakan, saat ini semua relatif mudah, murah dan cepat. Itulah dampak positif dari Kemajuan teknologi informasi sehingga dengan sangat leluasa mempelajari sesuatu tanpa terkendala waktu dan jarak.

“Hanya dengan menekan tombol nomor pada handphone, kebutuhan/keperluan dapat terpenuhi. Ditangan orang yang tidak bertanggung jawab, kemudahan tersebut dapat menjadi petaka bagi orang lain atau masyarakat pada umumnya, seperti uang palsu,”ujarnya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, besar harapan kami pelatihan ini dapat membangun sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, Kejaksaan Agung dan Kepolisian dalam rangka mewujudkan mata uang Rupiah sebagai salah satu simbol kedaulatan NKRI.

Baca Juga:   PLN Cetak Laba Bersih Rp6,6 T di Semester I 2021

Selain itu, sosialisasi harus dimulai dari dini, karena kemampuan anak muda lebih dapat diandalkan, dan lebih cepat dapat menyerap,

“Mulai dari PAUD – Mahasiswa diberikan pemahaman uang rupiah. “Sabagai bentuk pencegahan masuknya pengedaran uang palsu,”ungkapnya.

“Dalam kordinasi ini melibatkan lima instansi yakni, Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, Badan Intelijen Negara (BIN), Kejaksaan, dan Kepolisian. Kami harapkan memberikan efek jera dan tidak mengulangi kembali, mulai dari pengedar ataupun pemasok uang palsu,”tegasnya.

Kedepan kami berharap adanya integrasi data analisis temuan UPAL yang dilakukan oleh Bank Indonesia melalui BI-CAC dapat digunakan sebagai dasar pengungkapan kasus tindak pidana upal oleh Aparkum.

Sehingga peran aktif Aparkum dan BI dalam penanggulangan uang palsu kedepan dapat lebih bersinergi dan dilakukan hingga unsur terkecil dari aparkum sehingga tindak pidana pemalsuan uang Rupiah dapat terus diminimalisir. (hen/ynk)




  • Bagikan