Duh, Sektor Otomotif Lampung Tersuruk, Market Tersisa 30 Persen

  • Bagikan

radarlampung.co.id-Pandemi global Covid-19 turut mempengaruhi berbagai sektor perekonomian. Tak terkecuali penjualan otomotif. Dalam diskusi daring bertajuk Otomotif Ambyar, PAD Turun Tajam terungkap sektor penjualan otomotif turut terseok. Kondisi ini bahkan memunculkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan disektor tersebut.

Diskusi yang digelar Indonesia Marketing Association (IMA) Lampung dan Radar Lampung Rabu (10/6) itu dihadiri sejumlah narasumber. Diantaranya Kabid PIP Bapenda Lampung Hendra Siswanto, Korwil Astra Group Helmy Yansyah, Ketua APPI Lampung Donald Turnip, Direktur LBUM-Dealer Mitsubishi Dewa Astawa, GM PT. Tunas Dwipa Matra Dony Ronaldo dan ekonom Universitas Lampung Asrian Hendi Caya.


President IMA Lampung Heri Andrian mengungkapkan, penjualan roda empat pada 18 Mei 2020 secara nasional anjlok hingga 90 persen. Begitu juga dengan kondisi penjualan kategori roda dua.

“Dengan hancurnya sales ini, maka APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) juga tidak memenuhi target. PAD kita memang 50 persen kontribusi BBNKB dan PKB. Tahun lalu Rp 1,5 T dari Rp2,8 T target. Tahun ini apakah akan sama ? Yang kita harapkan jangan turun ekstrim, kalau turun akan terjadi penurunan PAD yang cukup signifikan,” beber Heri.

Turunnya penjualan itu diamini Helmy Yansah, Koordinator Astra Group Lampung. Menurutnya, market merk astra diantaranya Toyota, Daihatsu, Isuzu dan Du Truck mengalami penurunan market. “Market turun tajam, penurunan komersil di banding tahun baru, passanger cenderung naik sampai april 2020. Tapi marketnya sudah menunjukan penurunan,” beber Helmy.

Dia melanjutkan market bulan mei roda empat hanya berkisar 500 unit. Sehingga, kalau ditarik rata-rata di  2020 penurunan sudah diatas 70%. “Market hanya tersisa sisa 30 persen. Juni belum tahu dan belum bisa diprediksi. Hampir semua merk juga turun. Bahkan by brand sampai 46 persen. Hampir semua terdampak. Secara gambling bisa dikatakan bukan level provinsi saja. Namun juga kabupaten/kota dan hampir merata disemua brand. By model astra lebih banyak didominasi penjualan passanger sekitar 80%, tren penjualannya juga sama. Dibanding tahun lalu dibulan sama mirip dengan kondisi market. Jadi astra mengalami hal sama, beratnya market di tengah pandemi,” tambahnya.

Baca Juga:   Mabes Polri Diminta Turun Tangan, Usut Pencemaran Limbah di Pesisir Lampung

Helmy menambahkan, saat ini pihaknya membutuhkan kebijakan untuk relaksasi dan kemudahan PKB dan BBNKB terkait penurunan daya beli. Serta sistem logistik yang terganggu akibat banyak pembatasan dari produksi sampai distribusi.

Kedua jalani protocol kesehatan dengan massiv, memberikan ruang pergerakan ekonomi di Lampung agar keberlangsungan masyarakat tetap berjalan dan daya beli berangsur membaik. Selanjutnya, kata Helmy, struktur PDB Lampung bertumpu pada komiditi terdampak seperti singkong  padi karet kelapa sawit tebu dan peternakan.

Ditambahkan Dewa Astawa Direktur LBUM – Dealer Mitsubishi dengan kondisi menurun ini dealer terpaksa harus melakukan pengurangan karyawan. Karenanya, lanjut dia, semua pihak baik dealer, pemerintah daerah dan leasing harus segera mengambil langkah recovery.

Sementara Dony Ronaldo GM PT Tunas Dwipa Matra mengatakan, dari sisi sosial, lockdown ataupun pembatasan menyebabkan penjualan direct sales yang biasa dilakukan tertunda bahkan batal.

“Selain itu, relaksasi membuat masyarakat menunda pembayaran. Ekonomi Lampung juga melambat. Di Honda itu 70 persen merupakan kredit. Sementara Down Payment minim. Bisa di bilang dibawah 15 persen. Maka dengan ditetapkannya 15 persen berdampak pada masyarakat. Leasing juga,” lanjut Dony.

Terkait regulasi, Hendra Siswanto Kabid Pengembangan Informasi Pendapatan mewakili Kepala Bapenda Lampung, Piterdono HZ mengatakan pertumbuhan industri otomotif turut dipengaruhi perusahaan pembiayaan, pemda dan masyarakat.

“Pemprov sebenarnya berperan sedikit. Nilai jual kendaraan (oleh) pemerintah pusat, PKB dan Bea Balik Nama produk perda. Jadi bukan hanya dari pemerintah saja tapi juga melibatkan dewan,” katanya.

Baca Juga:   PLN Siap Pasok Daya Andal ke Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama di Asia Tenggara

Namun, lanjutnya, Pemprov melalui Bapenda Lampung juga telah mengambil langkah. Yakni penghapusan denda pajak, denda keterlambatan faktur dan fiskal selama periode darurat Covid-19 sejak 6 April hingga 29 Mei.

“Karena darurat di perpanjang maka dilanjutkan tahap kedua denda dan pajak 30 Mei sampai 29 Juni. Jadi kalau dikaitkan dengan industri kendaraan bermotor, memang yang banyak berperan pemerintah pusat,” lanjutnya.

Namun, Ekonom Lampung Asrian Hendi Caya meyakini sektor penjualan otomotif akan normal menyusul adanya aturan terkait pembatasan jumlah pengunjung di transportasi umum.

“Kalau saya lihat, perdagangan secara nasional 2019 sudah turun 2020 turun diperkuat karena Covid-19. Ya relatif turun lah ya. Dari Covid-19 memang ada penurunan beberapa waktu. Tapi kedepan prospesknya masih memiliki peluang. Pertama, soal pembatasan jumlah penumpang. Artinya akan ada penambahan kendaraan baik pribadi atau umum. Sektor umum hanya 50 persen saat ini. Maka sementara saja, kedepan akan ada peluang permintaan kendaraan. Kedua kendaraan booming avanza Toyota, brio di Honda artinya kendaraan kecil dan relative murah” beber Asrian.

Kedepan, implikasi covid-19 ini peluang kendaraan permintaan ada tinggal jenis kendaraanya akan muncul kendaraan kecil dan murah. “Karena dengan adanya Covid-19 ini masyarakat akan memilih menggunakan angkutan pribadi. Ada peluang kedepan. Hanya saat ini dan beberapa waktu ke depan ya mau nggak mau kita terima bahwa penjualan akan sedikit di rem. Namun masih ada peluang kedepannya penjualan akan kembali pulih, setidaknya factor soal kebijakan angkutan darat ini. Karna angkutan umum kaan berubah polanya karena covid-19,” ucap dia. (rma/wdi)




  • Bagikan