Viral Fenomena Boneka Arwah, Ini Penjelasan Psikolog Lampung

  • Bagikan
FOTO ANGGI RHAISA : Dua  Psikolog Lampung  yakni Cindani Trika Kusuma,M.Psi.,Psikolog (Dosen Psikologi UIN Raden Intan Lampung) maupun  Retno Riani,S.Psi.M.Psi (Psikolog RSJ Daerah Lampung)  mengomentari Fenomena Adopsi Boneka Arwah (Spirit Doll) oleh Beberapa Artis Ibukota salah satunya Ivan Gunawan dan Celine Evangelista.
Dua Psikolog Lampung yakni Cindani Trika Kusuma,M.Psi.,Psikolog (Dosen Psikologi UIN Raden Intan Lampung) dan Retno Riani,S.Psi.M.Psi (Psikolog RSJ Daerah Lampung) mengomentari Fenomena Adopsi Boneka Arwah (Spirit Doll) oleh Beberapa Artis Ibukota salah satunya Ivan Gunawan dan Celine Evangelista.

RADARLAMPUNG.CO.ID – Kemunculan fenomena boneka arwah atau spirit doll yang dimiliki oleh para selebriti termasuk Ivan Gunawan dan Celine Evangelista membuat dua psikolog Lampung angkat bicara.

Artis Ivan Gunawan, belum lama ini, memperkenalkan dua boneka arwah sebagai anaknya di akun Instagram miliknya. Adanya hal tersebut, menjadi sorotan warganet.  Selain Ivan Gunawan, Artis lain seperti Celine Evangelista juga mengadopsi satu boneka bayi laki-laki dari Furi Harun.



Adanya fenomena Boneka arwah Tersebut, membuat dua Psikolog Lampung angkat bicara. Seperti Cindani Trika Kusuma, M.Psi., yang merupakan Dosen Psikologi UIN Raden Intan Lampung yang menyebut, fenomena adopsi boneka arwah (spirit doll) harus segera dihentikan. Sebab, Jika tidak ada batasan antara kehidupan maupun khayalan, maka akan mempengaruhi dampak psikologi pada orang tersebut sehingga, orang itu tidak dapat membedakan mana yang kehidupan khayalan maupun nyata.

“Pada Ilmu Psikologi, memang ada teori mempelajari hal itu apakah untuk kehidupan nyata atau khayalan. Jadi buat pribadi kita, untuk mawas diri agar tidak terlena dengan tindakan tersebut (menjadi terbawa merawat boneka bayi,red),” Ungkap Cindani, Selasa (4/1).

Ici-sapaan akrabnya- menambahkan, Sejauh ini, pihaknya belum membaca secara terperinci berdasarkan ilmu psikologi secara mendalam. Namun, setidaknya pada beberapa orang yang melakukan tindakan Spirit Doll ini akan membedakan mana asli maupun halusinasi.

“Pastinya, Boneka ini adalah suatu benda bukan manusia atau makhluk hidup sehingga semestinya perlakuannya berbeda. Karena rasa sayang yang ditimbulkan dari boneka, ada batasannya,” Ucapnya.

“Misalnya, boneka dijadikan teman diskusi bagaimana cara silahturahmi dengan teman di sekolah. Kalau lebih dari itu, dikhawatirkan ada gangguan psikologis yang muncul,” tambah Perempuan yang juga sebagai Psikologis Klinis UPTD PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Provinsi Lampung.

Menurutnya, gangguan Psikologis yang akan muncul sangat beragam, hal ini terlihat dari faktor penyebabnya. Seperti keluarga, Interaksi sosial, Bullying. “Dari Faktor penyebab gangguan ini, kita akan melihat dampak yang akan memberikan efek kecemasan, depresi atau skizofrenia (seseorang memiliki gangguan kejiwaan yang berhalusinasi),” jelasnya.

Sebagai Psikolog, Ici pun menghimbau kepada masyarakat Lampung untuk cerdas mencari atau mengambil informasi dari sosial media maupun menilai informasi sosial media secara bijak (baik,benar dan tepat).

Retno Riani (Psikolog RSJ Daerah Lampung), juga mengatakan bahwa tindakan berhalusinasi yang tidak mempengaruhi kegiatan sehari-hari, bukan merupakan kategori gangguan kejiwaan. “Karena Keberfungsian dirinya yang masih bagus karena ia masih bisa melakukan kegiatan normal seperti biasanya. Artinya dia bukan kategori gangguan kejiwaan,” Tegas Retno.

Namun, Retno merasa heran ada beberapa orang merawat boneka yang disebut boneka arwah yang seolah-olah diperlakukan seperti bayi sendiri. “Mungkin, faktor utama adalah lagi Trend saat ini,” Ucapnya.

Dia menjelaskan, Boneka arwah yang saat ini lagi trend ada dua jenis boneka, yakni boneka mata tertutup dan mata terbuka. Namun, bajunya diganti oleh pemilik boneka tersebut layaknya seorang anak maupun bayi yang bisa jadi Faktor penyebabnya karena kesepian.

“Bisa jadi orang yang memiliki boneka itu karena kesepian, sehingga kebutuhan mendasarnya mencurahkan kasih sayang ke dua boneka itu,” Kata Retno sambil mengatakan tindakan tersebut dianggap khalayak umum sebagai tindakan tak biasa.

Meskipun demikian, Retno menganggap Ivan Gunawan yang memiliki boneka arwah tersebut masih batas wajar dalam gangguan kejiwaan, karena masih bisa kreatif dan eksis sebagai designer ibu kota.

Lain hal dengan Fenomena Celine Evangelista mengadopsi boneka bayi, lanjut Retno yang kaget melakukan hal yang sama padahal Celine telah memiliki 4 anak. “Mungkin ia juga kesepian akan sesuatu sehingga mencari mengisi kesepian dengan cara hal tersebut. Walaupun menurut saya itu tindakan kurang tepat,” sebut Retno.

Tindakan kurang tepat pada artis Celine, lanjut Retno, karena artis tersebut telah memiliki 4 anak sedangkan pada Ivan gunawan karena posisinya belum menikah sehingga ia belum ada anak dijadikan model sendiri. Sehingga Ivan menjadikan dirinya sebagai Parenting role model untuk bonekanya.

“Tapi kalau Celine menurut saya kurang pas karena memiliki 4 anak, tiba-tiba ambil anak lagi boneka biasanya secara kepribadian itu tidak matang kalau saya katakan. Jadi ketika ada suatu persoalan ditarik kebelakang, mekanisme penyelesaian persoalan tak bagus sehingga mencari jalan pintas dengan merawat boneka seolah-olah memperlakukan seperti bayi padahal dalam faktanya dia punya kenapa tidak menghadapi 4 anaknya yang hidup. Mungkin karena boneka merupakan benda mati, mau di apa-apain pemilik nurut, beda dengan makhluk hidup tidak banyak protes/komplain,” Katanya.

Oleh sebab itu, Retno memberikan Solusi kepada masyarakat Lampung agar tidak mengikuti trend tersebut. “Biasanya trend itu hanya bertahan cuma sebentar, kita tidak memaksakan mereka untuk tidak mengikuti trend. Tapi menurut saya, pantas atau tidaknya trend itu untuk kita ikuti,” pungkasnya. (gie/yud)






  • Bagikan