Gotong Royong, P3UW Bangun Pintu Air Bendungan Senilai Rp1 Miliar

  • Bagikan
Pintu air bendungan yang baru diresmikan. FOTO P3UW LAMPUNG

RADARLAMPUNG.CO.ID – Perhimpunan Petambak dan Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung membangun sebuah pintu air bendungan tambak udang. Tidak tanggung-tanggung. Nilainya mencapai Rp1 miliar lebih.

Pintu air bendungan tersebut berada di Kampung Bumisentosa, Kecamatan Rawajitu Timur, Tulangbawang.


Ketua P3UW Lampung Suratman mengatakan, anggaran untuk membangun pintu air bendungan tersebut bersumber dari hasil gotong-royong atau dana investasi para petambak.

Pembangunan pintu air yang berada di blok 0 Kampung Bumisentosa itu dimulai sejak akhir tahun 2020. Pengerjaannya sekitar 165 hari dan menghabiskan anggaran Rp1.160.714 000.

Pintu air bendungan tersebut memiliki panjang 40 meter, lebar 9 meter, dan memiliki tiga pintu air. Pengerjaan bangunan yang telah diresmikan pada hari Minggu (28/3) ini juga dilakukan secara gotong-royong.

Baca Juga:   Telan Korban Jiwa, Polres Tuba Pasang Banner Imbauan di Lokasi Ini

“Dananya murni dari swadaya petambak, dengan cara iuran Rp1.000 per kilogram dikalikan jumlah tonase setiap panen udang. Dananya dikumpulkan di setiap RT melalui badan pengurus RT atau disebut Badan Pengurus Tetangga (BPT),” kata Suratman, Senin (29/3).

Bangunan tersebut di bangun karena hampir 10 tahun para petambak setempat tidak memiliki pintu air sendiri. Selama ini mereka terpaksa bergabung dengan blok l.

Suratman menjelaskan, sirkulasi keluar masuk air laut di pintu air 0 menggunakan sistem manual. Seperti sistem irigasi persawahan yang nantinya akan difungsikan untuk mengairi 90 haktare lahan, terdiri dari 70 haktare lahan tambak dan 20 haktare lahan tandon penampungan air atau treatment pond.

Baca Juga:   Ditinggal ke Sawah, HP, Pupuk, Sampai Ayam Digondol Maling

Dengan adanya pintu air 0, diharapkan dapat mendongkrak hasil panen budidaya udang vaname petambak setempat hingga tiga kali lipat, karena bendungan tersebut langsung mengambil air dari laut.

Sebelum adanya pintu air ini, hasil panen petambak setempat hanya empat sampai lima ton. Pembangunan pintu air ini sekaligus pembuktian dan keseriusan petambak dipasena dalam merevitalisasi infrastruktur perairan budidaya secara mandiri. (nal/sur)




  • Bagikan