Heboh ‘Nyanyi’ di Luar Lapas, Andy Achmad Akhirnya Bicara..

  • Bagikan

Publik Lampung beberapa hari terakhir dihebohkan dengan berita munculnya mantan bupati Lampung Tengah, Andy Achmad Sampurnajaya yang terlihat tampil menyanyi di luar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Rajabasa, Bandarlampung. Secara khusus, radarlampung.co.id membesuk Andy Achmad pada Kamis (29/3) pukul 09.00 WIB, untuk mewawancarai terkait dirinya keluar Lapas. Seperti apa?

Laporan : M. Agus Purnomo radarlampung.co.id

“Silakan tangannya diangkat. Anda membawa apa?” Demikian kata petugas Lapas di pintu utama yang dekat dengan mesin pemindai X-Ray di Lapas Rajabasa, mirip pemeriksaan di bandara. Setelah tidak membawa barang bawaan termasuk handphone, karena tetap akan ditahan saat membesuk, empat orang petugas langsung sigap bekerja.

Lapas Kelas 1 Rajabasa Bandarlampung tempat Andy Achmad Sampurnajaya menjalani hukuman. Foto IST
Lapas Kelas 1 Rajabasa Bandarlampung tempat Andy Achmad Sampurnajaya menjalani hukuman. Foto IST

Satu orang bagian membuka-tutup pintu besi, satu lagi mencatat dan memberikan gelang dan mengecap tangan. Satu orang lagi mengawasi dari belakang. Satu petugas agak kurus langsung menggeledah seluruh bagian badan mulai dari lipatan kerah, dari leher hingga betis.

Maju selangkah, melewati pintu X-Ray disambut tatapan tajam empat petugas lain berbaju biru seragam Kemenkumham. Sampai di meja berikutnya, petugas meminta cap lagi dari kertas pendaftaran berdasarkan KTP dan siapa warga binaan yang akan dikunjungi.

Masuk ke pintu kedua, diarahkan lagi belok ke pintu ketiga menuju ruang besuk. Di situ, radarlampung.co.id menunggu cukup lama sekitar setengah jam menunggu warga binaan yang akan mengantarkan bertemu Kanjeng.

Tampak, suasana ruang besuk yang seperti aula dihiasi bangku semen dibungkus keramik penuh oleh keluarga yang menjenguk warga binaan. Sebagian melepas kangen dengan saling berpegangan tangan dan bercengkrama.

Ada lagi warga binaan yang mencium anaknya sambil digendong tinggi-tinggi mengajak bermain seolah-olah lama sekali tidak bertemu. Sang anak yang berumur sekitar tiga tahun itu terlihat begitu bahagia menikmati pelukan sang ayah yang dua lengannya penuh tato tersebut. Jarak satu meter, wanita muda tersenyum lega dengan mata berkaca-kaca sesekali mengusap mata dengan jilbabnya.

Tak lama, pria berpeci putih dan memakai gamis menghampiri radarlampung.co.id. Dia adalah Herman Hasboellah, mantan kepala BPKAD Lamteng yang juga ditahan di Lapas Rajabasa terkait kasus bantuan sosial (bansos) fiktif Lamteng. Herman mengajak ke belakang menuju lokasi mushala, karena ruangan besuk pagi itu penuh.

Baca Juga:   Bandarlampung PPKM Level 4, Metro Level 3, Ini Detilnya

Penjagaan terlihat ketat. Petugas bersiaga di penjuru pintu besi yang tingginya sekitar empat meter berlapis di area steril. Tiba di belakang Musala, tampak seorang pria berbaju hitam berkacamata sedang memetik gitar. Dia adalah Kanjeng–sapaan akrab Andy Achmad.

Dari vonis 12 tahun atas kasus korupsi APBD Lamteng, Kanjeng sudah enam tahun menjalani hukumannya. Tapi, Kanjeng terlihat masih segar, meski kerutan di lehernya tak bisa lagi disembunyikan.

“Silakan Dinda, inilah suasana lapas. Sehari-hari beginilah kami. Saya tinggal di blok D, (Tipikor, Red). Saya tinggal dekat Bupati Tanggamus Non Aktif Bambang Kurniawan. Sebelumnya juga ada mantan Wabup Lampung Selatan Wendy Melfa tapi sudah bebas,” kata Kanjeng membuka pembicaraan.

Terlihat, empat petugas Lapas duduk berjaga dengan jarak tiga meter dari lokasi tersebut.

Kanjeng mengatakan, ikhwal dirinya menyanyi di luar Lapas seperti heboh di media massa dan diunggah di media sosial (medsos) adalah lantaran permintaan dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) kepada dirinya untuk membuat album baru lagu Lampung sekitar dua bulan lalu atau sekitar Februari 2018.

“Secara khusus saya diminta untuk me-recycle lagu-lagu Lampung tempo dulu. Nah, kita ini kan bicara seni dan budaya Lampung. Saya berfikir, masyarakat Lampung itu nggak cuma butuh  makan minum saja, tetapi juga harus berseni budaya. Akhirnya saya terima tawaran membuat ulang album lagu Lampung tersebut,” ungkapnya.

Setelah itu, sambung Kanjeng, dia mulai membuat aransemen ulang lagu Lampung tempo dulu.

“Diaransemen ulang, menjadi lebih modern dan milenial musiknya. Video klipnya juga dibuat atraktif. Biar nggak bosenin. Jadi bisa lebih disukai anak-anak muda masa kini,” ujar pencipta dan penembang Lagu legendaris ‘Tanoh Lado’ itu.

Baca Juga:   Ingin Follower Bertambah, Motif Oknum Guru Sebar Hoaks Video Kerusuhan Metro

Untuk itu, pihak DKL membuat permohonan secara resmi ke pihak Kementerian Hukum dan HAM melalui pihak Lapas. Ditembuskan juga ke Gubernur Lampung.

“Permohonan semua resmi dan yang urus DKL. Kalau saya kan diminta. Tapi kalau kemudian merugikan nama baik saya seperti ini, ya saya nggak mau juga lah kalau begitu,” ucap ketua Majelis Taklim Lapas Rajabasa itu.

Menurut Kanjeng, saat keluar untuk menyanyi atas prakarsa DKL itu mendapat surat ijin resmi keluar dari Lapas. Dia lalu menunjukkan Surat Izin Keluar Narapidana bernomor : W9.PAS.1.PK.05.06-0619. Surat berisi keputusan pemberian izin kepada H. Andy Achmad Sampurnajaya Bin Ibrahim HS, dengan No. Register : B1. 105/12.

Surat izin keluar Lapas Andy Achmad Sampurnajaya. Foto radarlampung.co.id

Isi surat memberikan ijin kepada Andy Achmad untuk pembuatan karya lagu daerah Lampung yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Lampung yang dilaksanakan dalam pengawalan petugas.

Izin diberikan mulai Senin-Sabtu tanggal 19-24 Maret 2018 pukul 09.00-17.00 WIB. Pada isi surat, setelah selesai segera kembali ke Lapas Kelas I Bandarlampung. Selama menjalani izin keluar pengawalan dan pengawasan dilaksanakan oleh petugas Lapas dan keluarga.

Pada lampiran surat, ada lima petugas pengawal dari Lapas saat Kanjeng izin keluar. Mereka bertugas bergantian. Yakni Azhari, Rama Risandy, Azhari, Yuzar Astringent dan Lukman Hakim.

“Saya dikawal petugas Lapas sesuai surat. Namun memang bukan maksimal security karena memang saya nggak kabur. Saya sudah enam tahun di Lapas masak mau kabur. Pengawalan lebih pada menjaga karena suasana syuting saat itu. Dan sudah resmi,” ujarnya.

Selain itu, terus Kanjeng, dirinya sebisa mungkin untuk tetap tak tampil karena takut disalahartikan kehadirannya di luar Lapas.

“Saya makan saja di dalam mobil, takut saya urus syuting lagu ini disalahartikan jika dilihat masyarakat. Makanya, saya makan Tekwan panas bener nggak pakai meja. Saya makan dalam mobil dikawal juga,” terangnya. (bersambung)




  • Bagikan