Industri Perhotelan Tak Mau Patok Laba: Bisa Bertahan pun Sudah Hebat

  • Bagikan
Ilustrasi hotel. (Freepik)

RADARLAMPUNG.CO.ID – Menjelang Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momen yang bersahabat bagi bisnis perhotelan. Di momen itulah merupakan salah satu waktu yang mampu mendongkrak tingkat okupansi atau hunian hotel.

Sekretaris Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Lampung Friandi Indrawan menjelaskan, jika membicarakan bisnis hotel saat di luar pandemi, bulan Ramadan memang masuk dalam kategori low season. Jadi belanja pemerintah berkurang, selama bulan puasa juga kegiatan pemerintah maupun perusahaan swasta berkurang, dan juga orang bepergian bisa dibilang tidak ada.

Sehingga, jika dalam bisnis hotel, waktu ini adalah salah satu kategori low season.

“Meski begitu, akan diobati dengan adanya libur Idul Fitri, biasanya pemudik atau masyarakat yang ingin berlibur di Idul Fitri cukup bisa menolong low season, itu jika di luar kondisi pandemi. Tapi sekarang kondisinya berbeda, sudah ada larangan mudik, ditambah low season. Jadi penderitaannya itu lengkap untuk bisnis perhotelan,” jelasnya, Minggu (9/5).

Baca Juga:   PPnBM Dongkrak Penjualan Unit Baru di Tengah Pandemi

Di saat seperti itu, lanjutnya, managemen hotel harus mempunyai strategi untuk menyiasati kondisi demikian, khususnya menjelang Idul Fitri. Sebab, akan ada berbagai macam pengeluaran selain biaya operasional, juga THR karyawan.

“Managemen hotel harus cermat terkait kondisi ini, biasanya mereka sudah memprediksi kondisi ini. Sehingga, mereka harus punya cadangan untuk bertahan,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Chapter Lampung Lekat Rahman menuturkan, kondisi saat ini yang terjadi di luar harapan para pebisnis perhotelan. Sebab, pihaknya menargetkan adanya pemulihan tingkat okupansi mencapai 50 persen.

Target tersebut dinilai tidak terlalu tinggi mengingat saat itu belum ada regulasi terkait larangan mudik. Namun, sampai saat ini, kondisi perhotelan hanya 15 sampai 20 persen saja.

Baca Juga:   SELAMAT JALAN PROFESOR

“Jangankan mau bergerak naik, malah bergerak turun. Karena harapan kami bila puasa, di 10 hari terakhir akan ada arus mudik. Sekarang arus mudik tidak ada ditambah situasi seperti ini. Target yang kami perkirakan sekitar 50 persen kenyataannya kondisinya hanya sekitar 15 persen,” ungkapnya.

Dikatakannya, di Lampung telah banyak industri hotel yang menerapkan SOP protokol kesehatan, juga telah mendapatkan sertifikat Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) atau CHSE.

“Untuk mengantisipasi terdampak Covid-19, kami sudah menerapkan protokol kesehatan dan juga CHSE. Upaya seperti itu sudah dilakukan,” imbuhnya.

Hanya ia menambahkan, jika strategi pasar, di saat seperti ini tidak ada yang bisa dilakukan, yang ada memperbaiki bagian internal managemen, apa yang bisa diperbaiki.

Baca Juga:   BSI Mulai Satukan dan Integrasi Sistem Layanan di Wilayah Sumatera

“Jadi sekarang harapan kita itu kekuatan bertahan. Jika berfikir bakal dapat untung, itu jauh. Di saat seperti ini, bisa bertahan saja sudah hebat. Mungkin upaya lainnya yang bisa dilakukan, misalkan upaya pengurangan karyawan, atau memberikan gaji separuh, itu bisa digunakan untuk menyiasatinya biar industrinya tidak tutup,” pungkasnya. (rur/sur)



  • Bagikan