Ingat, Ini Era Bisnis Digital, Yuk Simak Pesan Owner MARS Data Science

  • Bagikan
Prof. Ir. Roy Sembel, M.B.A., Ph.D., CSA dalam kuliah umum Business Acumen 4.0 Industry and Digital Era di Aula Gedung Alfian Husin Lantai III, Sabtu (9/3). FOTO DARMAJAYA FOR RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Seiring perkembangan zaman, setiap perusahaan dan individu harus memiliki kemampuan kreatif dan inovatif. Khususnya agar bisnis yang dirintis tetap berjalan dan eksis di era Industri 4.0 dan era digital.

Bagaimana caranya? Pesan Prof. Ir. Roy Sembel, M.B.A., Ph.D., CSA. patut digugu.


“Dulu, zaman masih pakai tenaga manusia, era Industri 1.0 pakai mesin uap, era Industri 2.0 ditemukan listrik oleh Thomas Alva Edison, tahun 60-an dan 80-an sudah ada komputer tapi baru sebatas mainframe computer,” kata Prof. Roy dalam kuliah umum Business Acumen 4.0 Industry and Digital Era di Aula Gedung Alfian Husin Lantai III, kemarin (9/3).

Komputer saat itu, kata dia, memakai bahasa basic. “Zaman sekarang otomatisasi dan connecting lebih lebar, yakni IoT (internet of things), big data, dan sistem integration,” kata dia.

Pria kelahiran Jakarta ini juga menerangkan model bisnis sekarang sudah berubah. “Dari kepemilikan menjadi sharing economy. Tahun 1995 tidak ada youtuber, SEO (search engine optimization), dan seperti sekarang ini. Lima sampai 10 tahun lagi ada new product lagi,” kata Roy.

Baca Juga:   Right Issue untuk Pengembangan Ekosistem Ultra Mikro, Sumber Pertumbuhan Baru di Tengah Pandemi

Menurutnya, perusahaan yang terlalu mengandalkan produk sampai tidak memunculkan bisnis baru akan ditinggalkan dan tidak laku lagi. “Perusahaan harus menciptakan produk barunya yang sesuai dengan zamannya. Ketika krisis setiap orang yang menjalani bisnis harus bisa menangkap peluang tidak memikirkan bagaimana menghambat krisis,” jelasnya.

Di era Industri 4.0 dan era Digital, lanjut Roy, inovasi dan kreativitas setiap perusahaan maupun individu menjadi kekuatan dalam bisnisnya. “New Economy Digitalization/e-commerce, capital mobility, and liberalization. Seperti Gojek dengan Go Pay-nya lebih besar e-money dibandingkan dengan bank konvensional. Gojek dari Go Pay mendapatkan Rp60 triliun transaksinya dan bank hanya menerima Rp12 triliun,” imbuhnya.

Ayah empat orang anak ini menuturkan, business acumen merupakan kepiawaian bisnis. Yakni ketajaman dan kecepatan dalam menangani suatu bisnis dalam segala situasi. “Mengidentifikasi prioritas, menciptakan selling promotion product kepada konsumen agar tetap loyal dengan produk anda. Kecerdasan bisnis dalam menangkap peluang,” tuturnya.

Owner MARS Data Science ini mengingatkan bahwa setiap orang terlahir tidak langsung sukses. “Saya dulu memiliki nilai raport jelek tapi dengan proses dan kegigihan serta kemauan maka bisa mencapai profesor. People are made, not born,” pesannya.

Baca Juga:   Semester Satu 2021, Investasi Lampung Capai Rp8,79 Triliun

Sebelumnya, Wakil Rektor I IIB Darmajaya, Dr. RZ Abdul Aziz, S.T., M.T., mengatakan pihaknya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang dapat beradaptasi dalam perubahan zaman. Kampus IIB Darmajaya juga beradaptasi dengan eranya.

“Untuk itu, sebagian besar kita harus bisa mempelajari. Dollar tembus tertinggi mengalahkan rupiah dan tempe menjadi tipis, bagaimana bisa kreatif bukan malah menjadi tutup usahanya. Bagaimana bisa tetap memenuhi kebutuhan pasar,” ucap dia dalam sambutannya.

Doktor lulusan Jepang ini mengaku bersyukur dapat menghadiri Prof Roy ke kampus biru. “Hari ini, Alhamdulillah kita datangkan pakarnya yang akan membagi bagaimana menangkap peluang dalam era industri 4.0. Saya ucapkan terima kasih atas kesempatannya kepada Prof. Roy Sembel yang dapat memberikan kuliah. Ini buat adik-adik mahasiswa kesempatan yang baik,” kata dia.




  • Bagikan