Ini Cara OJK Lindungi Konsumen Fintech

Financial Technology (Fintech)/IST

radarlampung.co.id – Otoritas Jasa Keuangan akan terus fokus pada
kebijakan perlindungan konsumen dalam membangun industri financial
technology (fintech). Langkah yang dilakukan salah satunya dengan pendekatan disiplin pasar sesuai karateristik fintech yang fleksibel dan transparan.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida memaparkan,”Dalam hal ini untuk melindungi kepentingan konsumen termasuk data nasabah, perusahaan fintech harus menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, mulai dari manajemen risiko sehingga mendorong transparansi, akuntabilitas, tanggungjawab, independensi dan keadilan,”ujarnya.

Fokus pada perlindungan konsumen dilakukan dengan pengembangan fintech diharapkan sejalan dengan tugas OJK dalam membangun industri jasa keuangan yang sehat serta mendorong inklusi keuangan di masyarakat.

BACA  Harga Emas Antam Stagnan di Pasar Spot

Ia menyampaikan, transparansi ialah faktor kunci keberhasilan pengembangan fintech, melalui sistem pelaporan yang jelas kepada konsumen dan kepada OJK.
“Untuk meningkatkan transparansi, harus ada standar tentang jenis informasi apa
yang harus dimiliki fintech dan bagaimana detail informasi seharusnya. Laporan
tersebut harus bisa dikonfirmasi oleh otoritas,” katanya.

Transparansi informasi mengenai hak dan kewajiban para pihak seperti investor,
peminjam, platform, bank koresponden menyangkut potensi pendapatan, potensi
risiko, biaya-biaya, bagi hasil, manajemen risiko dan mitigasi jika terjadi kegagalan
harus dibuka seluas-luasnya. OJK juga meminta perusahaan fintech wajib memberikan edukasi keuangan kepada konsumen agar pemahaman mengenai layanan fintech menjadi lebih baik.

BACA  Mata Uang Turki Krisis Berdampak Juga di Rupiah

Selain itu, diupayakan agar fintech membangun lingkungan keuangan digital yang
sejalan dengan upaya Pemerintah mendorong suku bunga rendah. Pilihan pengawasan fintech melalui self regulatory organization (SRO) dalam implementasi pelaksanaan pasar juga bisa dilakukan karena SRO berada di dekat pasar dan industri, sehingga kebijakannya sejalan dengan dinamika pasar.

BACA  Jotun Tarik Undian Program Perdana

Namun, netralitas dan integritas SRO ini harus dijaga. Sampai Januari 2018, perusahaan peer to peer lending yang terdaftar di OJK sebanyak 36 dan berijin 1 perusahaan. Sejumlah 42 perusahaan dalam proses pendaftaran.

Total pinjaman yang disalurkan perusahaan sampai Januari 2018 mencapai Rp3
triliun atau meningkat 17,1 persen (ytd), dengan jumlah penyedia dana 115.897
meningkat 14,82 persen (ytd) dan jumlah peminjam 330.154 tumbuh 27,16 persen
(ytd). (ynk)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here