Inspiratif! Melihat Lebih Dekat Usaha Steam Penyandang Difabel


Penyandang difabel sedang mencuci motor di pencucian motor Gerkatin, Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id
Penyandang difabel sedang mencuci motor di pencucian motor Gerkatin, Bandarlampung. Foto M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id

Usaha jasa cuci sepeda motor (steam) sekilas adalah hal yang biasa. Namun jasa steam satu ini cukup berbeda lantaran para pekerjanya merupakan penyandang difabel yang seolah menegaskan mereka pun mampu hidup mandiri. Seperti apa kisahnya?

Laporan M. Tegar Mujahid/Bandarlampung





————————————-

Bangunan berkanopi sekitar 10 x 6 meter di perempatan Jalan Pagar Alam, Segala Mider, Kedaton, Bandarlampung, terlihat ramai. Di hadapan mereka yang sedang duduk menunggu, tampak sejumlah orang sedang sibuk mencuci sepeda motor dengan sangat teleti.

Namun, jika lebih diperhatikan, ada yang berbeda dari interaksi antar pekerja yang tampak cekatan tersebut. Terlihat sejumlah pekerja saling berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa isyarat. Sementara sejumlah konsumen yang hendak berkomunikasi dengan pekerja terlihat memanfatkan smartphone yang dibawanya.

Ya, itu lantaran kesemua pekerja yang terlibat merupakan penyandang difabel. Sesekali mereka memberikan gerakan isyarat satu sama lain, juga saling lempar senyuman hingga tertawa.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

Setidaknya, terlihat lima pekerja difabel sibuk membersihkan sepeda motor. Mereka saling berbagi tugas, ada yang bertanggung jawab di bagian pencucian, ada pula di bagian pengeringan sepeda motor.

Dan, ada pula di bagian pembukuan atau pencatatan.

Kerja mereka pun tak bisa diragukan. Terbukti, usaha tersebut selalu terlihat ramai.

Mereka tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan proses pencucian satu unit motor. Rata-rata sekitar 20 sampai 30 menit.

Jaka (25), salah satu pekerja difabel di lokasi itu mengaku dirinya merupakan pegawai paling lama yang bekerja di sana –sudah hampir 6 tahun melakoni profesi sebagai pencuci sepeda motor itu.

Melalui tulisan di smartphone, Jaka mengungkapkan dirinya bersyukur mendapatkan kesempatan bekerja di sana.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

Dari situ, dirinya bisa menafkahi anak dan istri di rumah. Juga tak lupa menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung guna biaya sekolah anaknya kelak.

Bapak satu anak itu berharap usaha bagi orang yang memiliki keterbatasan seperti dirinya bisa difasilitasi, karena masih banyak teman-temannya di luar sana yang masih mau bekerja namun terkendala dengan tempat bekerja.

Sementara, Dwi Jaya Nugroho, selaku Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Teman Tuli Indonesia (Gerkatin) mengatakan bahwa semua pekerja cuci steam di sana adalah disabilitas yang berasal dari organisasi Gerkatin.

“Untuk yang bekerja di sini ada 12 orang, namun mereka bekerja bergantian. Mereka semua memiliki keterbatasan berbicara atau tunawicara,” kata Dwi.

Baca Juga:   Kemenkumham Lampung Sosialisasikan Layanan AHU Pendaftaran Perseroan Perorangan

Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, tak menyurutkan mereka untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai pencuci sepeda motor.

“Alhamdulillah hingga kini konsumen yang mencuci motor merasa puas dengan hasil cuci steam kawan-kawan,” katanya.

Dwi menjelaskan, usaha cuci motor di lokasi itu memiliki jargon “Pantang Pulang Sebelum Bersih”. Sehingga, lanjut dia, sudah menjadi kewajiban para karyawan bekerja semaksimal mungkin agar konsumen puas.

Indah (33), salah satu pelanggan pencucian sepeda motor Gerkatin mengaku bangga dengan hasil pekerja di sana, meski memiliki keterbatasan, hasil pekerjaan mereka memuaskan.

“Awalnya saya tak mengetahui kalau pekerjanya tidak bisa berbicara, namun setelah dua kali ke sini ternyata semua pekerja di sini memiliki keterbatasan, Dan alhamdulillah setiap cuci di sini puas, motor benar-benar bersih,” pujinya. (*)