Intermediasi Perbankan Syariah dan Pemerataan Ekonomi

  • Bagikan

Oleh : Indrajaya

Sistem keuangan islam merupakan pelengkap dan penyempurna sistem ekonomi islam yang didasarkan kepada produksi dan perdagangan atau lebih umum dikenal dengan istilah sektor riil.

Kegiatan yang tinggi dalam bidang produksi dan perdagangan akan meningkatkan jumlah uang beredar, begitu pula sebaliknya kelesuan kegiatan ekonomi akan berdampak pada rendahnya perputaran dan jumlah uang beredar. Dalam perekonomian islam, keseimbangan antara aktivitas ekonomi riil dengan tinggi rendahnya jumlah uang beredar senantiasa dijaga. Adapun salah satu instrumen untuk menjaganya adalah sistem perbankan islami.

Dalam sistem keuangan islam, hasil dari investasi dan pembiayaan yang dilakukan bank di sektor riil menentukan pembagian keuntungan di sektor moneter. Sektor moneter memiliki ketergantungan kuat akan sektor riil. Jika investasi dan produksi di sektor riil berjalan dengan lancar, maka return pada sektor moneter akan meningkat.

Idealnya pemanfaatan sumber daya ekonomi dapat dilakukan secara langsung dari pihak yang memiliki dana atau berinvestasi (sahibul maal) langsung kepada sektor produksi.

Namun dalam perkembangannya ketidakmerataan distribusi kekayaan yang ada di suatu negara antara si pemilik dana dengan si pemilik keahlian dalam melakukan produksi harus dapat dijembatani oleh adanya suatu sistem ekonomi yang dapat menfasilitasi pendistribusiannya.  Disitulah masuk peran bank untuk dapat menjembatani ketimpangan yang terjadi.

Potret Perbankan Syariah Kini

Sejak awal didirikannya Bank Muamalat Indonesia sebagai bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 1991, sampai dengan saat ini tercatat sudah 13 Bank Umum Syariah (BUS) yang berdiri.

Belum lagi 22 Unit Usaha Syariah (UUS) yang dimiliki oleh Bank Umum Konvensional yang berpotensi untuk menjadi entitas yang berdiri sendiri seiring dengan kewajiban spin off unit usaha syariah menjadi bank umum syariah yang memiliki badan hukum tersendiri paling lambat 2023.

Seiring dengan dengan berjalannya waktu semakin tumbuh dan berkembangnya industri perbankan syariah ini seyogyanya dapat mendukung distribusi kekayaan antara pihak yang berkelebihan dengan pihak yang membutuhkan melalui fungsi intermediasi yang dilakukan.

Statistik OJK Desember 2017 menunjukkan bahwa peningkatan pembiayaan yang telah mencapai Rp 285,70 triliun belum sebanding dengan pengumpulan dana pihak ketiga yang telah mencapai Rp 334,72 triliun. Walaupun bila diperbandingkan jumlah pembiayaan tersebut masih berada dalam koridor intermediasi yang diperkenankan namun masih belum maksimal.




  • Bagikan