Intip Lebih Dekat Kesibukan Pembuatan Kue Keranjang

  • Bagikan
Pekerja saat menata dodol keranjang yang sudah masak di rumah industri dodol keranjang, di Kampung Sawah, Bandarlampung, Senin (8/2). Menurut pemilik usaha tersebut, permintaan dodol keranjang khas Imlek yang dijual Rp24 per kilogram menurun hingga 30 persen dari sebelumnya akibat pandemi COVID-19. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

radarlampung.co.id – Hasan Kurniawan (54) salah satu pemilik usaha kue tutun atau yang kerap disebut dengan kue keranjang tradisional. Dengan bahan utama beras ketan dan gula merah pun kelapa, dirinya mengaku bahwa pihaknya mulai banyak menerima pesanan kue keranjang khas sejak dua pekan lalu.

“Namun, pesanan kue keranjang tahun ini agak sedikit menurun dibanding tahun lalu, karena dampak Dampak pandemi Covid 19 menyebabkan jumlah produksi kue tutun atau keranjang pada perayaan Imlek tahun ini mengalami penurunan. Kalau diperkirakan bisa turun sekitar 30 persen,” kata Hasan, Senin (8/2).


Hasan mengatakan, biasanya dapur produksi kue keranjang berlokasi di Jalan Sadewo Atas, Kampung Sawa, Tanjungkarang Timur, Bandarlampung ini mampu memproduksi paling sedikit 1.000 kue keranjang. Sebagai pedagang musiman, kue keranjang hanya dicari oleh konsumen saat jelang perayaan tahun baru Cina atau Imlek.

Baca Juga:   Bakso Son Haji Sony Adukan Nasib Karyawannya ke KSP RI

“Ya, memang khusus kita buat saat Imlek saja, kalau hari hari biasa bisa dikatakan kue ini gak ada harga,” kata Hasan lagi.

Hasan mengatakan biasanya menjual kue keranjang berat 1 kg dengan harga Rp 24 ribu. Namun berbeda jika ditempat pengecer. Harga jual bisa bervariasi antara Rp 25 ribu – Rp 30 ribu.

“Kue keranjang buatannya saya ini bisa ditemukan di sejumlah minimarket dan supermarket. Tak jarang konsumen setia kue keranjang cap teratai datang langsung ke tempat produksi,” kata dia.

Proses pembuatan kue tutun cukup sederhana, sebelumnya dikukus, tepung beras ketan ini direndam air selama kurang lebih 24 jam.

“Paling cepat direndam dalam air selama 12 jam. Semakin lama direndam maka hasilnya akan semakin bagus,” kata Hasan diselah selah proses pembuatan kue tutun.

Baca Juga:   Bakso Son Haji Sony Adukan Nasib Karyawannya ke KSP RI

Ia menambahkan bahwa usaha yang digelutinya saat ini merupakan warisan dari orang tuanya, yang sudah berjalan sejak puluhan tahun. (gar/ang)




  • Bagikan