IPM Jadi Sorotan Caleg Lampung

  • Bagikan
BEM U KBM Universitas Lampung (Unila) menggelar acara Ngobrol Bareng Caleg di gedung D.3.1 Fisip Unila, Sabtu (16/3). Foto BEM Unila for radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) khususnya di Provinsi Lampung menjadi sorotan calon legislatif (Caleg) Lampung. Hal itu dikupas dalam Ngobrol Bareng Caleg di gedung D.3.1 Fisip Unila, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) U KBM Universitas Lampung (Unila), Sabtu (16/3).

Saat ini, IPM dinilai memasuki nilai yang cukup rendah. Terlebih, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2016 menyatakan bahwa IPM Lampung telah mencapai 67,65. Angka ini meningkat sebesar 0,70 poin dibandingkan IPM Lampung Tahun 2015 yang sebesar 66,95.


Dalam diskusi ini, Caleg yang dihadirkan berasal dari berbagai macam fraksi. Yakni, Taufik Basari (Nasdem) Erwin Eka Kurniawan (Golkar), Detti Febrina (PKS), Edi Agus Yanto (PAN), Muhammad Kadafi (PKB).

Baca Juga:   Ketua KPK RI Beber Kronologis Kasus Suap Azis Syamsuddin

Adu argumentasi terkait IPM dipaparkan masing-masing Caleg Lampung tersebut. Mengupas arah pemikiran para calon wakil rakyat nampak menarik dengan berbagai visi yang dibawa dengan latar belakang Caleg yang berbeda. Berbagai gagasan pengembangan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, khususnya di Provinsi Lampung ditawarkan baik dari segi sosial budaya dan ekonomi.

“Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat potensi wisata yang tinggi, dan saat ini belum dikembangkan secara maksimal sehingga menjadi pekerjaan rumah kita ke depan,” kata Taufik Basari saat ditanya pendapatnya terkait upaya pengembangan IPM di Lampung.

Sementara itu, Edi Agus Yanto berharap Caleg yang terpilih nantinya mampu bergerak bersama masyarakat, sehingga dapat memahami karakter dan permasalahan sebelum membuat kebijakan yang menyelesaikan permasalahan rakyat.

Baca Juga:   Masuk Objek Wisata, Pengunjung Harus Tunjukkan Kartu Vaksin

“Diskusi semacam ini sebaiknya digelar dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, tidak hanya terbatas pada area kampus melainkan hingga desa dan kecamatan dengan mengundang aparatur-aparatur desa terkait,” tandasnya. (rls/kyd)




  • Bagikan