Jadi Saksi, Budi Winarto alias Awi Mengaku Dipermainkan Soni

  • Bagikan
Saksi memberikan keterangan untuk terdakwa eks Bupati Lampung Tengah Mustafa secara telekonfrensi pada sidang lanjutan di Ruang Garuda, Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Bandarlampung, Kamis (28/1). JPU KPK hendak menghadirkan empat saksi, namun satu orang saksi tidak hadir, Ketiga saksi hadir yakni Budi Winarto alias Awi, Tafif Agus Suyono, dan Muhammad Supriat yang merupakan pihak rekanan atau pihak swasta dari PT Sorento Nusantara. FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Di persidangan lanjutan terdakwa mantan Bupati Lampung Tengah (Lamteng), terungkap bahwa Budi Winarto alias Awi mengungkapkan bahwa dirinya seperti dipermainkan Soni Adiwijaya –orang yang menawarkan dirinya proyek di Lamteng.

“Ya di awal dia menawarkan proyek ke saya dan harus membayar fee sebesar Rp5 miliar. Uang itu sudah saya bayarkan dengan beberapa kali pembayaran. Namun proyek yang saya akan kerjakan tak kunjung diberikan oleh Soni,” kata Awi saat menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Kelas IA Tanjungkarang, Kamis (28/1). Begitu juga dengan nilai pagu proyek yang akan dirinya kerjakan. Ia pun tak tahu.


Lantaran uang fee sudah masuk dengan pembayaran beberapa kali ia pun terus mendesak Soni agar segera diberikan proyek yang dijanjikan.

Baca Juga:   Polda Kirim Sempel Limbah Hitam ke Jakarta

“Akhirnya saya pun diminta Soni untuk ke Jakarta menemui Mustafa. Kami bertemu di Hotel Borobudur. Dan Mustafa sampaikan untuk menghubungi Taufik. Ketika pulang Taufik ngajak saya bertemu di Hotel Bukit Randu. Dan disepakatilah di sana bahwa saya mengerjakan proyek jalan sepanjang 22,5 kilometer di Desa Kalirejo. Dengan nilai pagu Rp75 miliar,” katanya.

Usai diketahui nilai pagu proyek dan sasarannya dirinya mengerjakan apa, barulah Mustafa mengajak ia bertemu di Summit Bistro. Untuk membicarakan proyek itu.

“Di sana (Summit Bistro) saya malah diminta mengerjakan proyek dengan nilai pagu sebesar Rp80 miliar oleh Mustafa. Dan Mustafa meminta fee sebesar Rp15 miliar. Harus membayar di awal,” kata dia.

Baca Juga:   Polisi Masih Berusaha Identifikasi Pelaku Pencurian Minimarket

“Saya kan binggung. Kok nilai fee dan pagu pengerjaan proyeknya besar sekali. Saya pun berpikir bahwa kesepakatan ini tak sama yang dijanjikan oleh Taufik terhadap dirinya,” tambahnya.

Akhirnya ia pun tak bisa menyanggupi untuk membayar fee sebesar Rp15 miliar itu. Karena melihat kondisi keuangan perusahaannya yang sedang krisis keuangan. “Kami memberikan uang Rp5 miliar itu saja, sebagian meminjam ke bank. Dan sisanya uang pribadi saya,” ucapnya.

“Di situ pun tak ada kesepakatan. Karena ya saya enggak sanggup dan sudah membayar Rp5 miliar melalui Soni. Itu pun apabila saya sanggup menerima proyek itu, fee-nya bayar di belakang. Tetapi Mustafa tidak mau. Karena waktu itu dia sangat butuh uang,” pungkasnya. (ang/sur)




  • Bagikan