Jalur Zonasi Bisa Motivasi Sekolah Tingkatkan Akreditasi

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID-Jalur zonasi, menjadi salah satu jalur masuk pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) baik tingkat sekolah dasar dan menengah dinilai bisa memotivasi sekolah dalam meningkatkan akreditasi sekolah.

Hal tersebut disampaikan Toni Koharudin, Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah Kemdikbud Ristek dalam Fellowship Jurnalis Pendidikan (FJP) yang digelar Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Indonesia pada Selasa (15/6).

Jalur zonasi sendiri dalam PPDB memiliki kuota terbesar, yaitu 50% dari total daya tampung sekolah. Menurut Toni -sapaan akrab Toni Koharudin-, zonasi bisa meningkatkan status akreditasi sekolah semakin besar.

“Jalur zonasi kami sambut baik, karena dengan zonasi itu bisa menaikkan status akreditasi semakin besar. Jadi, ketika sekolah berada di zonasi tertentu, namun akreditasi sangat kurang. Tapi karena tuntutan masyarakat ingin sekolah favorit maka akan termotivasi meningkatkan akreditasi,” beber Toni.

Baca Juga:   Yayasan Tak Boleh Campuri Kelulusan Siswa

Toni menyebut, idealnya penerimaan jalur zonasi diberlakukan jika standar pendidikan sudah sama. Namun, pihaknya tidak mempermasalahkan hal itu. Toni menyebut ada nilai positif lainnya yang bisa diambil.

“Salah satunya, madrasah bisa meningkatkan kualitas cepat. Sekarang terlihat bahwa keinginan orang tua memasukan anaknya ke sekolah favorit makin berkurang. Jadi sangat baik menurut kami dalam program zonasi, maka akselerasi kualitas sekolah madrasah terus meningkat. Pemerintah juga demikian, secara tidak langsung harus memenuhi standar kualitas tertentu di sekolah yang ada,” lanjut Toni.

Selain itu, ini bisa menjadi masukan bagi Pemerintah, karena ketika penilaian diserahkan pada sekolah maka standar penilaian menjadi sangat berbeda. Antara sekolah yang unggul dan tidak unggul.

Baca Juga:   UTI Kirim 60 Mahasiswa Ikut Program Kampus Mengajar

“Maka saya memberikan masukan sistem assessment yang baik diseluruh sekolah dibuat sedemikian. Sehingga setiap sekolah punya penilaian yang sama didaerah. Kalau yang sekarang yang terjadi kemungkinannya sistem assessment akan berbeda, jika sekolah unggul maka menilai siswa ketat, dan tidak unggul di longgar kan maka akan sulit menilai standar sekolah,” jelasnya. (rma/wdi)




  • Bagikan