Jangan Pandang Sebelah Mata, Dalam Perspektif Agama dan Budaya Perempuan Turut Miliki Peran Penting


Ilustrasi kesetaraan kedudukan dan hak antara laki-laki dan perempuan. (sumber: freepik.com)
Ilustrasi kesetaraan kedudukan dan hak antara laki-laki dan perempuan. (sumber: freepik.com)

Radarlampung.co.id – Kekerasan berbasis gender wajib menjadi perhatian semua pihak. Tanpa terkecuali.

Bukan hanya para penggiat kesehatan reproduksi atau pemerintah, semua kalangan sudah semestinya terlibat dalam upaya menghilangkan kekerasan berbasis gender.





Hal tersebut juga yang lantas menjadi topik dalam webinar yang kembali digelar Rutgers Indonesia, Jumat (3/12/2021).

Webinar bertema Kekerasan Berbasis Gender dalam Perspektif Agama dan Budaya itu mengundang pembicara antara lain Program Manager Right Here Right Now II (RHRN2) Hastin Asih, Dokter dan Aktivis Kesehatan Seksual SOGIESC Representative dr Alegra Wolter, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) Armbi, hingga penulis Buku Perempuan Bukan Sumber Fitnah Faqihuddin Abdul Qodir.

Dalam penjelasannya, Kang Faqih –sapaan akrab Faqihuddin Abdul Qodir— membahas hadis-hadis tentang jati diri perempuan yang kerap disalahpahami. Kang Faqih pun menyebutkan ada sejumlah hadis tentang partisipasi perempuan di ruang publik yang juga kerap disalahpahami.

Perlu diketahui, dalam ajaran islam ada yang disebut dengan mubadalah, yakni relasi antara dua pihak berbasis kesetaraan, kesalingan, dan kerja sama. Mubadalah pun merupakan metode interpretasi teks untuk menemukan makna yang ralasional di antara berbagai pihak yang sama-sama disapa dan dituju sebagai subjek yang setara.

Baca Juga:   Nasdem Diprediksi Gabung Koalisi Indonesia Bersatu

Metode mubadalah berupaya menafsirkan teks untuk menemukan pesan utama yang dapat menyapa laki-laki dan perempuan sebagai subjek yang setara, dengan maksud kebaikan yang dianjurkan dan keburukan yang dilarang oleh teks tertuju kepada keduanya.

Dengan metode mubadalah, Kang Faqih tampak hendak menyampaikan bahwa perempuan tidak lebih penting dari laki-laki, atau sebaliknya, dalam hal memperoleh kerahmatan atau melakukan akhlak mulia. Keduanya sama-sama penting untuk melakukan dan memperoleh kebaikan kedua hal tersebut.

Dalam bahasan kekerasan berbasis gender dalam perspektif agama budaya, kang Faqih mengatakan, perempuan memiliki jihad utama dalam membangun keluarga hingga mempertahankan rumah tangga. Ujung dari semua ini juga berkesinambung dengan cara pandang terhadap kehidupan dan perempuan.

Bahwa, tegas Kang Faqih, perempuan adalah bagian dari semesta, masyarakat, sosial, serta sebagaimana laki-laki yang memiliki peran dan perasaan harus diperhatikan.

“Lahirnya tafsir mubadalah adalah tafsir utuh yang menyempurnakan kehadiran Islam sebagai rahmatanlilalamiin dan akhlakul karimah baik bagi laki-laki maupun perempuan,” ungkapnya.

Baca Juga:   Kisah Perjuangan Luther, Membawa Terang ke Pulau Alor

Ya, hal itu sejalan dengan tujuan webinar yang hendak memaparkan perlunya hak kesehatan seksual reproduksi (HKSR) untuk diperjuangkan. Karena kasus terkait hal ini masih terbilang tinggi.

Program Manager Right Here Right Now II (RHRN2) Hastin A Asih mengungkapkan, Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program SKAP 2019 mencatat, kasus kehamilan tidak direncanakan (KTD) Indonesia mencapai 17,5 persen.

Di mana, berdasarkan SKDI 2017 sebanyak 12 persen perempuan belum kawin usia 15-24 tahun mengalami KTD. Lalu dari Catahu 2020 terjadi kekerasan dalam rumah tangga mencapai 75,4 persen. ”Masih berdasarkan Catahu 2021, perempuan korban kekerasan tahun 2021 mencapai 299.911 orang,” ungkapnya.

Terkait hal itu, lanjut dia, perlu ada kolaborasi demi tercapainya kesetaraan HKSR. Di mana, menurutnya program RHRN2 memiliki tujuan hendak berkontribusi pada pemenuhan HKSR kepada anak muda inklusif. ”Bila sudah inklusif tidak memandang identitas, gender, maupun terkait keluarga,” kata dia.

Dokter dan Aktivis Kesehatan Seksual SOGIESC Representative dr Alegra Wolter menambahkan, ada banyak diskriminasi yang lahir dari basis sexual orientation, gender identity, expression, and sex characteristics (SOGIESC). Adanya penolakan juga diskriminasi mengakibatkan munculnya kecemasan.

Baca Juga:   Buka Giling, PTPN VII Target Produksi 112 Ribu Ton Gula

Menurutnya, dalam mendorong hal itu perlu peran semua pihak untuk membuka wawasan soal keberagaman SOGIESC dan sensitivitas kultur. “Termasuk membina hubungan baik dengan berbagai komunitas,” ungkapnya.

Kemudian, HKSR Inklusif Jember Salman A Faris mengatakan, sangat penting guna memahami kesehatan HKSR bagi kaum disabilitas. Hal inilah yang menurutnya wajib disosialisasikan terhadap kaum disabilitas agar tidak mudah terbuai bujuk rayu untuk melakukan hubungan seks. Pihakya menyatakan berusaha melakukan sosialisasi kepada komunitas lainnya untuk menekan pelecehan seksual kepada kaum disabilitas.

Ditambahkan Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) Armbi, perempuan sejatinya memegang peranan penting.  Di mana, perempuan pada dasarnya juga dapat memegang peran dalam banyak hal. Seperti contohnya, dalam kesenian perempuan sangat dihormati karena itu hal yang berat bagi seorang wanita dan biasa dilakoni laki-laki. “Ya, perempuan pada dasarnya memegang banyak peranan penting,” tandasnya. (sur)